Pada akhir 2025, ditengah upaya pemulihan pascabanjir dan tanah longsor komoditas cabai justru menjadi sorotan karena hasil panennya yang melimpah akan tetapi distribusinya terhambat sehingga pasar tidak bisa menyerapnya dengan baik. Kondisi agroklimat yang mendukung dan pola tanam serentak membuat volume produksi cabai meningkat signifikan. Biasanya di akhir tahun, banyak petani di Aceh Tengah dan Bener Meriah memasuki musim panen cabai yang intensif, sehingga volume komoditas di tingkat petani sangat signifikan.
Secara teoritis, peningkatan produksi ini seharusnya memperkuat pendapatan petani dan memperlancar suplai ke pasar lokal maupun nasional. Namun, kenyataannya di lapangan menunjukkan kondisi yang berlawanan. Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh menyebabkan kerusakan pada jaringan transportasi darat, yang selama ini menjadi roda pemggerak distribusi cabai keluar daerah. Jalur logistik utama terhambat, kapasitas angkut menurun, dan waktu tempuh meningkat. Akibatnya, terjadi ketimpangan antara sisi produksi dan distribusi, yang memicu penumpukan pasokan di tingkat petani.
Bottleneck Logistik dan Oversupply Lokal
Dari sudut pandang teknik logistik, situasi ini dapat dikategorikan sebagai distribution bottleneck. Produksi berjalan normal bahkan meningkat, akan tetapi pada segmen transportasi terjdi kegagalan fungsi. Cabai sebagai komoditas yang mudah rusak dan memiliki toleransi waktu distribusi yang rendah. Ketika jalur darat tidak berfungsi optimal dan pasar lokal tidak mampu menyerap, maka terciptalah oversupply pada tingkat produksi. Dampaknya dapat langsung terasa pada harga di tingkat petani, yang turun tajam akibat tekanan pasokan yang tidak tersalurkan. Secara ekonomi, nilai tambah komoditas hilang bukan karena rendahnya kualitas atau permintaan, melainkan karena kegagalan sistem distribusi.
Backhaul Logistik sebagai Solusi Adaptif
Dalam konteks krisis distribusi tersebut, konsep backhaul logistik menjadi relevan dan strategis. Backhaul merujuk pada pemanfaatan kapasitas angkut pada perjalanan balik armada transportasi yang sebelumnya membawa muatan, agar tidak kembali dalam kondisi kosong (empty return).
Karena kondisi ini relevan dengan kondisi nyata, maka muncul gagasan pemanfaatan backhaul logistik dari Ferry Irwandi, seorang influencer sekaligus relawan. Ferry menyoroti kondisi armada bantuan bencana terutama pesawat angkut yang kembali dari Aceh dalam kondisi kosong (empty return), sementara hasil panen cabai petani menumpuk dan tidak terserap pasar. Armada logistik termasuk pesawat angkut yang digunakan untuk mengirim bantuan kemanusiaan memiliki potensi kapasitas balik yang besar namun sebelumnya tidak dimanfaatkan. Pemanfaatan backhaul untuk mengangkut cabai keluar Aceh merupakan bentuk optimasi kapasitas transportasi dalam kondisi darurat.
Backhaul sebagai Strategi Efisiensi dan Stabilitas Ekonomi
Konsep backhaul yang diusulkan Ferry Irwandi relevan secara teknis maupun ekonomis. Backhaul memungkinkan pemanfaatan kapasitas transportasi yang sebelumnya terbuang, sehingga meningkatkan efisiensi sistem logistik secara keseluruhan. Kasus ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan sangat bergantung pada ketahanan logistik. Sistem distribusi yang terlalu bergantung pada satu moda transportasi menjadi rentan terhadap gangguan infrastruktur. Integrasi backhaul ke dalam perencanaan logistik pangan, terutama di wilayah rawan bencana, menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya kerugian ekonomi akibat kegagalan distribusi.
Sumber: Antara News (2025). Laporan penyerapan dan pengiriman cabai Aceh menggunakan pesawat Hercules TNI AU sebagai bagian dari distribusi bantuan pascabencana; Berita Jakarta (2025). Laporan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait pembelian dan distribusi cabai dari Aceh untuk stabilisasi harga dan penyerapan hasil panen petani; Radar Malioboro Jawa Pos Group (2025). Pemberitaan inisiatif Ferry Irwandi dalam pemanfaatan penerbangan balik (backhaul) pesawat bantuan untuk mengangkut cabai petani Aceh ke Jakarta; Herald Indonesia (2025). Laporan gagasan barter udara Ferry Irwandi yang memanfaatkan armada bantuan kemanusiaan agar tidak kembali kosong dan berfungsi sebagai jalur distribusi komoditas pertanian; Christopher (2016). Logistics & Supply Chain Management. Pearson Education, yang menjelaskan konsep backhaul sebagai strategi optimasi kapasitas dan pengurangan empty return dalam sistem logistik; Kovács & Spens (2011). Studi humanitarian logistics tentang pemanfaatan armada bantuan dan fleksibilitas jaringan distribusi dalam kondisi bencana.
