Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung berapi. Dalam kondisi darurat, kecepatan dan ketepatan distribusi bantuan logistik menjadi faktor krusial dalam menyelamatkan korban jiwa. Namun, pada banyak kasus, jalur darat justru menjadi hambatan utama akibat kerusakan infrastruktur seperti jalan terputus, jembatan runtuh, atau akses wilayah yang terisolasi. Kondisi ini menuntut adanya solusi logistik yang mampu melampaui keterbatasan jalur konvensional, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi drone. Apa itu Drone?Drone atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) adalah pesawat tanpa awak yang mampu beroperasi di udara tanpa pilot di dalamnya. Pada awal pengembangannya, drone digunakan terutama untuk kepentinan militer, namun seiring perkembangan teknologi, pemanfaatannya meluas ke berbagai bidang. Drone dapat dioperasikan dari jarak jauh menggunakan perangkat kendali maupun melalui sistem komputer yang telah di program sebelumnya. Selain itu, drone dilengkapi dengan beragam sensor dan kamera yang mendukung pelaksanaan berbagai fungsi. Drone sebagai Inovasi dalam Logistik BencanaDalam konteks logistik bencana, drone menjadi inovasi yang menawarkan solusi cepat dan fleksibel. Penanganan drone dalam konteks situasi darurat dan penanganan bencana telah berkembang selama beberapa decade terakhir. Pada tahap awal, pemanfaatan drone lebih banyak difokuskan pada kepentingan militer, khususnya untuk kegiatan pengintaian, pemantauan, dan pengawasan. Namun, seiring kemajuan teknologi serta semakin terjangkaunya biaya produksi, drone mulai diadopsi dalam sector kemanusiaan, terutama untuk mendukung respons terhadap bencana alam dan kondisi darurat (Puspitasari dkk., 2021). Drone telah menunjukkan efektivitasnya sebagai alat pendukung penting dalam penyediaan data visual dan termal secara real-time. Informasi ini memungkinkan tim penyelamat untuk dengan cepat mengidentifikasi keberadaan korban, menilai tingkat kerusakan infrastruktur, serta menentukan jalur evakuasi yang aman secara lebih efisien. Selain itu, drone juga dimanfaatkan untuk menyalurkan bantuan medis, makanan, dan peralatan penyelamatan ke wilayah yang sulit dijangkau oleh tim darat, sehingga dapat mempercepat proses penanganan dan meningkatkan peluang keselamatan korban dalam situasi darurat yang kritis (Nainggolan & Karomoy, t.t.). Pemanfaatan drone dalam penanganan situasi darurat dan bencana turut membuka peluang baru bagi pengembangan teknologi dan inovasi. Berbagai perusahaan serta organisasi kemanusiaan terus berupaya meningkatkan kapabilitas drone agar mampu mendeteksi kondisi bencana dan memberikan respons yang lebih cepat, akurat, dan efektif. Keuntungan Penggunaan DronePenggunaan drone dalam logistik bencana memiliki sejumlah keuntungan :1. Pada kegiatan survey dan pemetaan, drone mampu terbang pada ketinggian rendah dan menjangkau wilayah yang sulit diakses, sehingga menghasilkan peta dengan tingkat akurasi dan detail yang lebih tinggi.2. Dalam pemantauan lingkungan, drone unggul dalam menyediakan data secara real-time serta memantau perubahan kondisi lingkungan secara lebih cepat.3. Drone juga berperan dalam operasi penyelamatan dan penanganan darurat, termasuk pencairan korban dan penyaluran bantuan medis di wilayah yang sulit dijangkau. Tantangan Penggunaan DroneMeskipun menawarkan berbagai keunggulan, pemanfaatan drone dalam kegiatan logistic masih menghadapi sejumlah keterbatasan dan tantangan yang perlu diperhatikan secara serius, antara lain sebagai berikut :1. Kapasitas muatan terbatasSebagian besar drone hanya mampu membawa beban ringan hingga menengah, sehingga belum dapat menggantikan moda transportasi konvesional untuk mengiriman barang berukuran besar atau berbobot berat.2. Keterbatasan daya tahan baterai dna jarak tempuhWaktu operasional drone masih terbatas akibat kapasitas baterai yang belum optimal. Kondisi ini membatasi efisiensi pengiriman, khususnya di wilayah yang luas atau memiliki banyak titik distribusi.3. Pengaruh kondisi cuaca dan lingkunganOperasional drone sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Angin kencang, hujan lebat, maupun cuaca ekstrem lainnya dapat mengganggu kestabilan penerbangan, meningkatkan risiko kecelakaan, serta berpotensi merusak perangkat dan barang yang dikirim. Pemanfaatan drone dalam logistik bencana menunjukkan potensi besar sebagai solusi inovatif untuk mengatasi keterbatasan akses dan waktu dalam situasi darurat. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kapasitas muatan, daya tahan baterai, dan pengaruh kondisi cuaca, peran drone tetap signifikan dalam mendukung distribusi bantuan, pemetaan, dan operasi penyelamatan. Dengan pengembangan teknologi yang berkelanjutan, dukungan regulasi yang adaptif, serta integrasi yang baik dengan moda transportasi logistik lainnya, drone dapat menjadi bagian penting dari sistem logistik kemanusiaan yang lebih responsif, efektif, dan tangguh dalam menghadapi bencana di indonesia. Sumber :Oaktree (2025). Drone dan masa depan logistik serta pengiriman; Fiqri et al. (2024). Penggunaan drone untuk meningkatkan respons cepat dalam penanganan kecelakaan pesawat di area terpencil; Puspitasari et al. (2021). Pengembangan desain drone sebagai alat bantu evakuasi bencana; Nainggolan & Karamoy (t.t.). Pengoperasian pesawat tanpa awak (drone) di ruang udara Indonesia ditinjau dari regulasi penerbangan.
Read MorePada akhir 2025, ditengah upaya pemulihan pascabanjir dan tanah longsor komoditas cabai justru menjadi sorotan karena hasil panennya yang melimpah akan tetapi distribusinya terhambat sehingga pasar tidak bisa menyerapnya dengan baik. Kondisi agroklimat yang mendukung dan pola tanam serentak membuat volume produksi cabai meningkat signifikan. Biasanya di akhir tahun, banyak petani di Aceh Tengah dan Bener Meriah memasuki musim panen cabai yang intensif, sehingga volume komoditas di tingkat petani sangat signifikan. Secara teoritis, peningkatan produksi ini seharusnya memperkuat pendapatan petani dan memperlancar suplai ke pasar lokal maupun nasional. Namun, kenyataannya di lapangan menunjukkan kondisi yang berlawanan. Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh menyebabkan kerusakan pada jaringan transportasi darat, yang selama ini menjadi roda pemggerak distribusi cabai keluar daerah. Jalur logistik utama terhambat, kapasitas angkut menurun, dan waktu tempuh meningkat. Akibatnya, terjadi ketimpangan antara sisi produksi dan distribusi, yang memicu penumpukan pasokan di tingkat petani. Bottleneck Logistik dan Oversupply Lokal Dari sudut pandang teknik logistik, situasi ini dapat dikategorikan sebagai distribution bottleneck. Produksi berjalan normal bahkan meningkat, akan tetapi pada segmen transportasi terjdi kegagalan fungsi. Cabai sebagai komoditas yang mudah rusak dan memiliki toleransi waktu distribusi yang rendah. Ketika jalur darat tidak berfungsi optimal dan pasar lokal tidak mampu menyerap, maka terciptalah oversupply pada tingkat produksi. Dampaknya dapat langsung terasa pada harga di tingkat petani, yang turun tajam akibat tekanan pasokan yang tidak tersalurkan. Secara ekonomi, nilai tambah komoditas hilang bukan karena rendahnya kualitas atau permintaan, melainkan karena kegagalan sistem distribusi. Backhaul Logistik sebagai Solusi Adaptif Dalam konteks krisis distribusi tersebut, konsep backhaul logistik menjadi relevan dan strategis. Backhaul merujuk pada pemanfaatan kapasitas angkut pada perjalanan balik armada transportasi yang sebelumnya membawa muatan, agar tidak kembali dalam kondisi kosong (empty return). Karena kondisi ini relevan dengan kondisi nyata, maka muncul gagasan pemanfaatan backhaul logistik dari Ferry Irwandi, seorang influencer sekaligus relawan. Ferry menyoroti kondisi armada bantuan bencana terutama pesawat angkut yang kembali dari Aceh dalam kondisi kosong (empty return), sementara hasil panen cabai petani menumpuk dan tidak terserap pasar. Armada logistik termasuk pesawat angkut yang digunakan untuk mengirim bantuan kemanusiaan memiliki potensi kapasitas balik yang besar namun sebelumnya tidak dimanfaatkan. Pemanfaatan backhaul untuk mengangkut cabai keluar Aceh merupakan bentuk optimasi kapasitas transportasi dalam kondisi darurat. Backhaul sebagai Strategi Efisiensi dan Stabilitas Ekonomi Konsep backhaul yang diusulkan Ferry Irwandi relevan secara teknis maupun ekonomis. Backhaul memungkinkan pemanfaatan kapasitas transportasi yang sebelumnya terbuang, sehingga meningkatkan efisiensi sistem logistik secara keseluruhan. Kasus ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan sangat bergantung pada ketahanan logistik. Sistem distribusi yang terlalu bergantung pada satu moda transportasi menjadi rentan terhadap gangguan infrastruktur. Integrasi backhaul ke dalam perencanaan logistik pangan, terutama di wilayah rawan bencana, menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya kerugian ekonomi akibat kegagalan distribusi. Sumber: Antara News (2025). Laporan penyerapan dan pengiriman cabai Aceh menggunakan pesawat Hercules TNI AU sebagai bagian dari distribusi bantuan pascabencana; Berita Jakarta (2025). Laporan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait pembelian dan distribusi cabai dari Aceh untuk stabilisasi harga dan penyerapan hasil panen petani; Radar Malioboro Jawa Pos Group (2025). Pemberitaan inisiatif Ferry Irwandi dalam pemanfaatan penerbangan balik (backhaul) pesawat bantuan untuk mengangkut cabai petani Aceh ke Jakarta; Herald Indonesia (2025). Laporan gagasan barter udara Ferry Irwandi yang memanfaatkan armada bantuan kemanusiaan agar tidak kembali kosong dan berfungsi sebagai jalur distribusi komoditas pertanian; Christopher (2016). Logistics & Supply Chain Management. Pearson Education, yang menjelaskan konsep backhaul sebagai strategi optimasi kapasitas dan pengurangan empty return dalam sistem logistik; Kovács & Spens (2011). Studi humanitarian logistics tentang pemanfaatan armada bantuan dan fleksibilitas jaringan distribusi dalam kondisi bencana.
Read More