Dosen Teknik Logistik Telkom University Purwokerto Jadi Narasumber Bimbingan Teknis Digitalisasi Pemasaran Produk Lebah Trigona

Dosen Program Studi Teknik Logistik Telkom University Purwokerto turut menjadi narasumber dalam kegiatan Bimbingan Teknis Budidaya dan Digitalisasi Pemasaran Produk Lebah Trigona (Trigona spp.) “Generasi Muda Pelestari Hutan” yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan. Kegiatan yang berlangsung pada 18–20 Agustus 2026 tersebut bertempat di Wanawiyata Widyakarya Petani Muda Prawita, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kegiatan diikuti oleh generasi muda yang memiliki minat dan aktivitas di bidang kewirausahaan kreatif kehutanan dari Kabupaten Banyumas, Cilacap, dan Purbalingga. Dalam kegiatan tersebut, dosen Teknik Logistik bersama narasumber lainnya membagikan pengetahuan mengenai pemasaran digital yang dapat diterapkan untuk mengembangkan produk hasil budidaya lebah Trigona. Pembahasan mencakup strategi pemasaran, digital branding, desain kemasan, hingga pemanfaatan platform penjualan online. Strategi Pemasaran Digital Pemasaran produk perlu diawali dengan pemahaman terhadap target konsumen dan kebutuhan pasar. Peserta diperkenalkan dengan konsep Product-Market Fit, yaitu kesesuaian antara produk yang ditawarkan dengan kebutuhan dan karakteristik konsumen. Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan Value Proposition, yaitu bagaimana pelaku usaha menyampaikan manfaat dan nilai yang membedakan produknya dari produk lain. Peserta juga mempelajari 4P Marketing Mix yang terdiri dari Product, Price, Place, dan Promotion sebagai dasar dalam menyusun strategi pemasaran yang terarah. Melalui pendekatan tersebut, peserta didorong untuk tidak hanya memikirkan bagaimana produk dapat terjual, tetapi juga memahami siapa konsumennya, permasalahan yang dihadapi, serta alasan konsumen memilih produk yang ditawarkan. Digital Branding dan Strategi Konten Digital branding menjadi bagian penting dalam membangun identitas dan kepercayaan terhadap suatu produk. Peserta dikenalkan dengan bagaimana identitas merek dapat dibangun melalui logo, tagline, karakter visual, serta pesan yang konsisten di berbagai media digital. Studi kasus Prawita Garden digunakan untuk memberikan gambaran mengenai penerapan branding pada produk berbasis potensi lokal. Peserta juga mempelajari strategi konten dengan pendekatan 70-20-10, yaitu 70% konten edukatif, 20% konten emosional, dan 10% konten promosi. Pendekatan tersebut dapat membantu pelaku usaha membangun hubungan dengan audiens melalui informasi dan cerita yang relevan, sebelum mengarahkan mereka pada aktivitas pembelian. Desain Kemasan sebagai Nilai Tambah Produk Kemasan tidak hanya berfungsi sebagai wadah dan pelindung produk, tetapi juga menjadi bagian dari komunikasi pemasaran. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pemilihan bentuk, warna, material, tipografi, ilustrasi, serta tata letak informasi agar kemasan mampu menarik perhatian dan mencerminkan karakter produk. Untuk produk madu Trigona, kemasan perlu memperhatikan aspek estetika sekaligus fungsional, seperti higienitas, keamanan, ketahanan selama distribusi, kemudahan penggunaan, dan kesesuaian dengan regulasi pangan. Peserta juga diperkenalkan pada pemanfaatan Canva dan Artificial Intelligence (AI) dalam pembuatan logo, flyer promosi, mockup kemasan, hingga foto produk. Pemanfaatan teknologi tersebut dapat membantu pelaku usaha menghasilkan materi visual secara lebih praktis dan kreatif. Pemanfaatan Shopee dan TikTok Shop Perkembangan e-commerce dan social commerce memberikan peluang bagi produk lokal untuk menjangkau konsumen di luar wilayah produksinya. Peserta diperkenalkan dengan karakteristik Shopee dan TikTok Shop serta cara memanfaatkan fitur yang tersedia untuk mendukung aktivitas pemasaran. Shopee memiliki kekuatan pada pencarian produk, katalog, ulasan, dan transaksi, sedangkan TikTok Shop dapat dimanfaatkan melalui video pendek, live streaming, dan affiliate marketing untuk meningkatkan jangkauan serta ketertarikan konsumen. Peserta juga dikenalkan dengan strategi omnichannel, yaitu menghubungkan beberapa saluran pemasaran agar dapat saling mendukung. TikTok dapat digunakan untuk menarik perhatian dan membangun awareness, sementara marketplace dapat menjadi sarana untuk memfasilitasi transaksi dan repeat order. Mendorong Kewirausahaan Berbasis Potensi Lokal Melalui kegiatan ini, generasi muda diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan dalam budidaya lebah Trigona, tetapi juga mampu mengembangkan hasil budidayanya menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing. Pemanfaatan strategi pemasaran digital, penguatan identitas merek, desain kemasan, serta marketplace menjadi bagian penting dalam membawa produk lokal menuju pasar yang lebih luas. Upaya tersebut juga sejalan dengan semangat pemanfaatan hasil hutan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan pemberdayaan masyarakat. Keterlibatan dosen Teknik Logistik Telkom University Purwokerto dalam kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam berbagi pengetahuan dan mendukung pengembangan kewirausahaan generasi muda berbasis potensi lokal.

Read More

Teknik Logistik Raih Penghargaan sebagai Program Studi Terbaik dalam Pelaporan Capaian Sasaran Mutu

Program Studi S1 Teknik Logistik Telkom University Purwokerto kembali meraih prestasi membanggakan. Program Studi S1 Teknik Logistik menerima penghargaan dari Telkom University sebagai Program Studi Terbaik atas Komitmen dalam Pelaporan Capaian Sasaran Mutu Periode I Tahun 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen Program Studi S1 Teknik Logistik dalam melaksanakan dan melaporkan capaian sasaran mutu selama Periode I Tahun 2026. Sertifikat penghargaan diterima pada 17 Juli 2026. Pencapaian ini menjadi salah satu bentuk apresiasi atas upaya Program Studi S1 Teknik Logistik dalam menjaga komitmen terhadap pencapaian target dan sasaran mutu yang telah ditetapkan. Pelaporan capaian sasaran mutu menjadi bagian penting dalam proses evaluasi dan pengembangan program studi untuk mendukung peningkatan kualitas secara berkelanjutan. Penghargaan ini juga menjadi motivasi bagi Program Studi S1 Teknik Logistik untuk terus meningkatkan kinerja dan mempertahankan komitmen dalam mendukung pencapaian mutu di lingkungan Telkom University. Ke depan, Program Studi S1 Teknik Logistik Telkom University Purwokerto diharapkan dapat terus menjaga konsistensi dalam pencapaian sasaran mutu serta terus melakukan pengembangan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan layanan akademik.

Read More

Teknik Logistik Telkom University Purwokerto Gelar International Guest Lecture tentang Strategic Simulation

Program Studi S1 Teknik Logistik Telkom University Purwokerto kembali mengadakan kegiatan International Guest Lecture pada Selasa, 23 Juni 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Microsoft Teams ini mengangkat tema “Strategic Simulation: The Architecture of Choice”. Pada kesempatan tersebut, Program Studi S1 Teknik Logistik menghadirkan Dr. Fazeeda Binti Mohamad, Associate Professor dari Faculty of Industrial Management, University Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah, Malaysia, sebagai narasumber. Jalannya kegiatan dipandu oleh Ratih Windu Arini, S.T., M.T., selaku dosen Program Studi S1 Teknik Logistik Telkom University Purwokerto. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Dr. Atik Fabriani selaku perwakilan Institut Penelitian dan Pengabdian Masyarakat sekaligus bidang kemitraan, serta Nabila Noor Qisthani, S.T., M.T. selaku Kepala Program Studi S1 Teknik Logistik. Dalam sambutannya, keduanya menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menambah wawasan mengenai penerapan simulasi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di dunia industri. Dalam sesi utama, Dr. Fazeeda membagikan pandangannya mengenai strategic simulation dan bagaimana simulasi dapat digunakan untuk membantu proses pengambilan keputusan. Menurutnya, simulasi bukan hanya tentang kemampuan menggunakan software seperti AnyLogic, FlexSim, Arena, atau Powersim, tetapi juga tentang memahami permasalahan yang dihadapi dan menentukan pendekatan yang tepat sebelum membangun sebuah model. Melalui konsep “The Architecture of Choice”, peserta diajak untuk melihat simulasi dari sudut pandang yang lebih luas. Sebelum menentukan software yang akan digunakan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami permasalahan dan menyusun pertanyaan yang ingin dijawab. Setelah itu, barulah metode dan model simulasi dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan. Berbagai contoh penerapan simulasi juga dibagikan selama sesi berlangsung, mulai dari operasional pelabuhan, sistem antrean di hypermarket, aktivitas gudang saat menghadapi lonjakan permintaan, hingga pelayanan di instalasi gawat darurat. Dari contoh tersebut, peserta dapat melihat bagaimana simulasi memungkinkan berbagai skenario diuji terlebih dahulu tanpa harus melakukan perubahan secara langsung pada sistem nyata. Selain Discrete Event Simulation (DES) yang banyak digunakan untuk menganalisis proses operasional, Dr. Fazeeda juga memperkenalkan System Dynamics (SD) yang dapat digunakan untuk melihat hubungan antarvariabel dan perubahan suatu sistem dalam jangka panjang. Pemilihan metode simulasi, menurutnya, perlu disesuaikan dengan karakteristik dan permasalahan yang ingin dianalisis. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami bahwa simulasi tidak hanya digunakan untuk menghasilkan angka atau menjalankan sebuah model. Lebih dari itu, simulasi dapat menjadi alat untuk menguji berbagai alternatif, memahami kemungkinan yang dapat terjadi, dan memberikan dasar yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan.

Read More

Teknik Logistik Telkom University Purwokerto Gelar Kuliah Umum Bahas Airport Cargo Ecosystem

 Program Studi S1 Teknik Logistik Telkom University Purwokerto menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Airport Cargo Ecosystem: The Strategic Role of Airports in the Global Supply Chain” pada Sabtu, 06 Juni 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan Wahyu Kresna Ristianto, S.T., M.B.A., Head of Cargo & Property Management InJourney Airport, sebagai narasumber dan di moderatori oleh Nabila Noor Qisthani, S.T., M. T., CSCA, dosen Program Studi Teknik Logistik. Kuliah umum ini diikuti oleh seluruh mahasiswa Program Studi Teknik Logistik serta turut dihadiri mahasiswa dari beberapa program studi lain yang menunjukkan tingginya antusiasme mengenai logistik dan transportasi udara.  Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa bandara saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan pesawat, tetapi juga menjadi pusat distribusi barang bernilai tinggi, sensitif terhadap waktu, dan berperan penting dalam mendukung perdagangan internasional. Mahasiswa juga diperkenalkan pada karakteristik kargo udara, mulai dari produk farmasi, elektronik, hingga barang mudah rusak yang memerlukan penanganan khusus dan distribusi yang cepat.  Selain itu, materi membahas Airport Cargo Ecosystem, yaitu kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan seperti operator bandara, maskapai penerbangan, freight forwarder, ground handling, regulator, dan bea cukai dalam menciptakan sistem logistik yang terintegrasi. Narasumber juga menjelaskan pentingnya digitalisasi melalui penerapan sistem seperti e-Air Waybill (e-AWB) dan integrasi data untuk meningkatkan efisiensi serta transparansi proses logistik.  Mahasiswa turut memperoleh pemahaman mengenai proses bisnis penanganan kargo udara, indikator kinerja operasional terminal kargo, serta enam peran strategis bandara sebagai penghubung perdagangan, pusat logistik berbasis data, dan penggerak pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya itu, narasumber juga memperkenalkan berbagai peluang karier bagi lulusan Teknik Logistik, seperti di bidang cargo data analytics, route optimization, business development, hingga capacity planning terminal kargo.  Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai perkembangan industri kargo udara dan pentingnya integrasi berbagai pihak dalam menciptakan sistem logistik yang efektif dan efisien. Kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen Program Studi S1 Teknik Logistik Telkom University Purwokerto dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri serta memperkuat sinergi antara dunia akademik dan praktisi profesional.

Read More

Serina Academy Goes to School: Kolaborasi SMB Telkom University dan Program Studi Teknik Logistik di SMA Negeri 1 Banjarnegara

Sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan pendidikan dan karier bagi siswa sekolah menengah, Serina Academy Goes to School yang diselenggarakan oleh SMB Telkom University Purwokerto bekerja sama dengan Program Studi Teknik Logistik sukses dilaksanakan di SMA Negeri 1 Banjarnegara pada Jum’at, 06 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa SMA Negeri 1 Banjarnegara dan bertujuan memberikan pembekalan soft skill serta gambaran perencanaan karier setelah lulus sekolah. Kegiatan ini menjadi bentuk sinergi antara unit penerimaan mahasiswa baru Telkom University dengan Program Studi Teknik Logistik dalam mendukung kesiapan Generasi Z menghadapi tantangan pendidikan tinggi dan dunia kerja. Pelaksanaan Kegiatan dan Materi yang Disampaikan Untuk menjangkau seluruh peserta secara efektif, kegiatan Serina Academy Goes to School dilaksanakan secara paralel dan disesuaikan dengan jenjang kelas siswa. Siswa kelas X dan XI mengikuti kegiatan yang dipusatkan di aula dengan materi Pengembangan Soft Skill untuk Generasi Z. Materi ini disampaikan oleh dosen Program Studi Teknik Logistik, Ibu Yulinda Uswatun Kasanah, S.T., M.Sc dan Ibu Ratih Windu Arini S.T., M.T, CSCA. Kegiatan ini juga didampingi oleh tiga mahasiswa Program Studi Teknik Logistik yang turut berbagi pengalaman perkuliahan dan aktivitas kampus. Sementara itu, siswa kelas XII mengikuti kegiatan di masjid dengan materi Pemetaan Karier Setelah Lulus Sekolah yang disampaikan oleh Ibu Nabila Noor Qisthani, S.T., M.T., CSCA dan Bapak Miftahol Arifin, S.T., M.T, CSCA., C.EML. Pada sesi ini, kegiatan turut didampingi oleh student staff dari tim marketing SMB Telkom University Purwokerto yang memberikan pengenalan profil kampus serta peluang studi di Telkom University. Pesan dan Harapan Pihak SekolahDalam sambutannya, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Banjarnegara menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Serina Academy Goes to School. Beliau berharap kegiatan ini dapat meningkatkan motivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, khususnya di Telkom University Purwokerto. Selain itu, pihak sekolah juga berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut dan dilaksanakan kembali pada tahun mendatang. Melalui kolaborasi antara SMB Telkom University Purwokerto dan Program Studi Teknik Logistik, kegiatan Serina Academy Goes to School diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi siswa dalam mempersiapkan diri, baik dari sisi pengembangan soft skill maupun perencanaan karier setelah lulus sekolah.

Read More

Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Untuk Pengembangan Konten Pembelajaran

Perkembangan dunia digital saat ini telah melahirkan temuan ilmiah berupa teknologi yang mampu menyelesaikan masalah manusia dengan mudah sebagaimana dikenal dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Penggunaan Artificial Intelligence (AI) pada era ini juga telah meluas ke berbagai bidang termasuk pendidikan. Hal ini menyebabkan pendidik perlu beradaptasi dengan mengenal apa itu AI hingga mampu menerapkannya pada konteks yang tepat dalam proses belajar mengajar sesuai dengan kebutuhan dengan mempertimbangkan etika yang benar. Menanggapi hal ini, dosen teknik logistik menyadari perlunya melakukan pengabdian masyarakat dalam bentuk pelatihan penggunaan AI untuk pembuatan konten pembelajaran. Hal ini dilakukan agar para pendidik mampu menyampaikan materi pelajaran dengan cara yang menarik dan inovatif sehingga dapat meningkatkan minat dan fokus peserta didik dalam belajar.  Kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk “Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Untuk Pengembangan Konten Pembelajaran” dengan melibatkan guru-guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Tegal sebagai peserta kegiatan. Pelatihan ini secara langsung dilakukan oleh Lukman Adhitama, S.T., M.Sc. dan Syarif Hidayatuloh S.T., M.T. dengan terlebih dahulu dibuka oleh perwakilan guru MAN 1 Tegal. Pada acara tersebut pemaparan materi dibagi dalam dua sesi yaitu pengenalan AI secara umum dan pelatihan penggunaan mentimeter untuk membuat konten pembelajaran. Acara ini dilakukan pada hari Jumat, 31 Oktober 2025 mulai pukul 09.30 sampai dengan 11.00 WIB di Aula MAN 1 Tegal. Pelatihan yang telah dilakukan mendapat respon positif dari para peserta yang telah mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir. Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah dipelajari pada proses pembelajaran secara langsung. Dengan demikian, hasil pelatihan dapat memiliki dampak yang luas.

Read More

International Guest Lecturer : Inovasi Drone dan Algoritma Evolusioner untuk Logistik Kemanusiaan

Program Studi Teknik Logistik Telkom University Purwokerto Kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan wawasan global melalui kegiatan International Guest Lecturer yang diselenggarakan pada Selasa, 23 Desember 2025, bertempat di Aula Rachmat Effendi, Telkom University Purwokerto. Kegiatan ini mengangkat topik “Drone-Asissted Routing and Evolutionary Algorithms : Prospects in Humanitarian Operations” yang relevan dengan perkembangan teknologi dan tantangan logistic modern. Acara ini menghadirkan narasumber internasional, Dr. Setyo Tri Windras Mara, PhD, seorang Postdoctoral Researcher di University of New South Wales, Australia. Dalam pemaparannya, Dr. Setyo membahas bagaimana pemanfaatan drone-assisted routing dan evolutionary algorithms dapat menjadi Solusi inovatif dalam mendukung operasi kemanusiaan, khususnya pada distribusi bantuan di wilayah yang sulit dijangkau. Untuk menjawab tantangan tersebut, Dr. Setyo memperkenalkan konsep evolutionary algorithms, yaitu metode optimasi berbasis prinsip evolusi biologis yang mampu menghasilkan Solusi terbaik dari permasalahan kompleks. Algoritma ini sangat relevan dalam menyelesaikan permasalahan logistic seperti Vehicle Routing Problem (VRP), yang menjadi salah satu focus pembahasan dalam acara ini, Melalui kombinasi drone-asissted routing dan evolutionary algorithms, mahasiswa mendapatkan gambaran bagaimana pendekatan komputasional dan teknologi dapat diaplikasikan secara nyata dalam Humanitarian Operations.Kegiatan ini mendapatkan antusiasme tinggi dari mahasiswa dan dosen yang hadir, ditandai dengan diskusi aktif serta tanya jawab yang interaktif. Diharapkan, melalui kegiatan International Guest Lecturer ini, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman global, meningkatkan minat riset, serta mengembangkan inovasi yang berdampak nyata bagi Masyarakat.

Read More

Melampaui Jalur Darat : Drone sebagai Solusi Logistik Bencana

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung berapi. Dalam kondisi darurat, kecepatan dan ketepatan distribusi bantuan logistik menjadi faktor krusial dalam menyelamatkan korban jiwa. Namun, pada banyak kasus, jalur darat justru menjadi hambatan utama akibat kerusakan infrastruktur seperti jalan terputus, jembatan runtuh, atau akses wilayah yang terisolasi. Kondisi ini menuntut adanya solusi logistik yang mampu melampaui keterbatasan jalur konvensional, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi drone. Apa itu Drone?Drone atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) adalah pesawat tanpa awak yang mampu beroperasi di udara tanpa pilot di dalamnya. Pada awal pengembangannya, drone digunakan terutama untuk kepentinan militer, namun seiring perkembangan teknologi, pemanfaatannya meluas ke berbagai bidang. Drone dapat dioperasikan dari jarak jauh menggunakan perangkat kendali maupun melalui sistem komputer yang telah di program sebelumnya. Selain itu, drone dilengkapi dengan beragam sensor dan kamera yang mendukung pelaksanaan berbagai fungsi. Drone sebagai Inovasi dalam Logistik BencanaDalam konteks logistik bencana, drone menjadi inovasi yang menawarkan solusi cepat dan fleksibel. Penanganan drone dalam konteks situasi darurat dan penanganan bencana telah berkembang selama beberapa decade terakhir. Pada tahap awal, pemanfaatan drone lebih banyak difokuskan pada kepentingan militer, khususnya untuk kegiatan pengintaian, pemantauan, dan pengawasan. Namun, seiring kemajuan teknologi serta semakin terjangkaunya biaya produksi, drone mulai diadopsi dalam sector kemanusiaan, terutama untuk mendukung respons terhadap bencana alam dan kondisi darurat (Puspitasari dkk., 2021). Drone telah menunjukkan efektivitasnya sebagai alat pendukung penting dalam penyediaan data visual dan termal secara real-time. Informasi ini memungkinkan tim penyelamat untuk dengan cepat mengidentifikasi keberadaan korban, menilai tingkat kerusakan infrastruktur, serta menentukan jalur evakuasi yang aman secara lebih efisien. Selain itu, drone juga dimanfaatkan untuk menyalurkan bantuan medis, makanan, dan peralatan penyelamatan ke wilayah yang sulit dijangkau oleh tim darat, sehingga dapat mempercepat proses penanganan dan meningkatkan peluang keselamatan korban dalam situasi darurat yang kritis (Nainggolan & Karomoy, t.t.). Pemanfaatan drone dalam penanganan situasi darurat dan bencana turut membuka peluang baru bagi pengembangan teknologi dan inovasi. Berbagai perusahaan serta organisasi kemanusiaan terus berupaya meningkatkan kapabilitas drone agar mampu mendeteksi kondisi bencana dan memberikan respons yang lebih cepat, akurat, dan efektif. Keuntungan Penggunaan DronePenggunaan drone dalam logistik bencana memiliki sejumlah keuntungan :1. Pada kegiatan survey dan pemetaan, drone mampu terbang pada ketinggian rendah dan menjangkau wilayah yang sulit diakses, sehingga menghasilkan peta dengan tingkat akurasi dan detail yang lebih tinggi.2. Dalam pemantauan lingkungan, drone unggul dalam menyediakan data secara real-time serta memantau perubahan kondisi lingkungan secara lebih cepat.3. Drone juga berperan dalam operasi penyelamatan dan penanganan darurat, termasuk pencairan korban dan penyaluran bantuan medis di wilayah yang sulit dijangkau. Tantangan Penggunaan DroneMeskipun menawarkan berbagai keunggulan, pemanfaatan drone dalam kegiatan logistic masih menghadapi sejumlah keterbatasan dan tantangan yang perlu diperhatikan secara serius, antara lain sebagai berikut :1. Kapasitas muatan terbatasSebagian besar drone hanya mampu membawa beban ringan hingga menengah, sehingga belum dapat menggantikan moda transportasi konvesional untuk mengiriman barang berukuran besar atau berbobot berat.2. Keterbatasan daya tahan baterai dna jarak tempuhWaktu operasional drone masih terbatas akibat kapasitas baterai yang belum optimal. Kondisi ini membatasi efisiensi pengiriman, khususnya di wilayah yang luas atau memiliki banyak titik distribusi.3. Pengaruh kondisi cuaca dan lingkunganOperasional drone sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Angin kencang, hujan lebat, maupun cuaca ekstrem lainnya dapat mengganggu kestabilan penerbangan, meningkatkan risiko kecelakaan, serta berpotensi merusak perangkat dan barang yang dikirim. Pemanfaatan drone dalam logistik bencana menunjukkan potensi besar sebagai solusi inovatif untuk mengatasi keterbatasan akses dan waktu dalam situasi darurat. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kapasitas muatan, daya tahan baterai, dan pengaruh kondisi cuaca, peran drone tetap signifikan dalam mendukung distribusi bantuan, pemetaan, dan operasi penyelamatan. Dengan pengembangan teknologi yang berkelanjutan, dukungan regulasi yang adaptif, serta integrasi yang baik dengan moda transportasi logistik lainnya, drone dapat menjadi bagian penting dari sistem logistik kemanusiaan yang lebih responsif, efektif, dan tangguh dalam menghadapi bencana di indonesia. Sumber :Oaktree (2025). Drone dan masa depan logistik serta pengiriman; Fiqri et al. (2024). Penggunaan drone untuk meningkatkan respons cepat dalam penanganan kecelakaan pesawat di area terpencil; Puspitasari et al. (2021). Pengembangan desain drone sebagai alat bantu evakuasi bencana; Nainggolan & Karamoy (t.t.). Pengoperasian pesawat tanpa awak (drone) di ruang udara Indonesia ditinjau dari regulasi penerbangan.

Read More

Backhaul Logistik sebagai Penyelamat Ekonomi Petani Cabai Aceh di Tengah Krisis Distribusi 2025

Pada akhir 2025, ditengah upaya pemulihan pascabanjir dan tanah longsor komoditas cabai justru menjadi sorotan karena hasil panennya yang melimpah akan tetapi distribusinya terhambat sehingga pasar tidak bisa menyerapnya dengan baik. Kondisi agroklimat yang mendukung dan pola tanam serentak membuat volume produksi cabai meningkat signifikan. Biasanya di akhir tahun, banyak petani di Aceh Tengah dan Bener Meriah memasuki musim panen cabai yang intensif, sehingga volume komoditas di tingkat petani sangat signifikan. Secara teoritis, peningkatan produksi ini seharusnya memperkuat pendapatan petani dan memperlancar suplai ke pasar lokal maupun nasional. Namun, kenyataannya di lapangan menunjukkan kondisi yang berlawanan. Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh menyebabkan kerusakan pada jaringan transportasi darat, yang selama ini menjadi roda pemggerak distribusi cabai keluar daerah. Jalur logistik utama terhambat, kapasitas angkut menurun, dan waktu tempuh meningkat. Akibatnya, terjadi ketimpangan antara sisi produksi dan distribusi, yang memicu penumpukan pasokan di tingkat petani. Bottleneck Logistik dan Oversupply Lokal Dari sudut pandang teknik logistik, situasi ini dapat dikategorikan sebagai distribution bottleneck. Produksi berjalan normal bahkan meningkat, akan tetapi pada segmen transportasi terjdi kegagalan fungsi. Cabai sebagai komoditas yang mudah rusak dan memiliki toleransi waktu distribusi yang rendah. Ketika jalur darat tidak berfungsi optimal dan pasar lokal tidak mampu menyerap, maka terciptalah oversupply pada tingkat produksi. Dampaknya dapat langsung terasa pada harga di tingkat petani, yang turun tajam akibat tekanan pasokan yang tidak tersalurkan. Secara ekonomi, nilai tambah komoditas hilang bukan karena rendahnya kualitas atau permintaan, melainkan karena kegagalan sistem distribusi. Backhaul Logistik sebagai Solusi Adaptif Dalam konteks krisis distribusi tersebut, konsep backhaul logistik menjadi relevan dan strategis. Backhaul merujuk pada pemanfaatan kapasitas angkut pada perjalanan balik armada transportasi yang sebelumnya membawa muatan, agar tidak kembali dalam kondisi kosong (empty return). Karena kondisi ini relevan dengan kondisi nyata, maka muncul gagasan pemanfaatan backhaul logistik dari Ferry Irwandi, seorang influencer sekaligus relawan. Ferry menyoroti kondisi armada bantuan bencana terutama pesawat angkut yang kembali dari Aceh dalam kondisi kosong (empty return), sementara hasil panen cabai petani menumpuk dan tidak terserap pasar. Armada logistik termasuk pesawat angkut yang digunakan untuk mengirim bantuan kemanusiaan memiliki potensi kapasitas balik yang besar namun sebelumnya tidak dimanfaatkan. Pemanfaatan backhaul untuk mengangkut cabai keluar Aceh merupakan bentuk optimasi kapasitas transportasi dalam kondisi darurat. Backhaul sebagai Strategi Efisiensi dan Stabilitas Ekonomi Konsep backhaul yang diusulkan Ferry Irwandi relevan secara teknis maupun ekonomis. Backhaul memungkinkan pemanfaatan kapasitas transportasi yang sebelumnya terbuang, sehingga meningkatkan efisiensi sistem logistik secara keseluruhan. Kasus ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan sangat bergantung pada ketahanan logistik. Sistem distribusi yang terlalu bergantung pada satu moda transportasi menjadi rentan terhadap gangguan infrastruktur. Integrasi backhaul ke dalam perencanaan logistik pangan, terutama di wilayah rawan bencana, menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya kerugian ekonomi akibat kegagalan distribusi. Sumber: Antara News (2025). Laporan penyerapan dan pengiriman cabai Aceh menggunakan pesawat Hercules TNI AU sebagai bagian dari distribusi bantuan pascabencana; Berita Jakarta (2025). Laporan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait pembelian dan distribusi cabai dari Aceh untuk stabilisasi harga dan penyerapan hasil panen petani; Radar Malioboro Jawa Pos Group (2025). Pemberitaan inisiatif Ferry Irwandi dalam pemanfaatan penerbangan balik (backhaul) pesawat bantuan untuk mengangkut cabai petani Aceh ke Jakarta; Herald Indonesia (2025). Laporan gagasan barter udara Ferry Irwandi yang memanfaatkan armada bantuan kemanusiaan agar tidak kembali kosong dan berfungsi sebagai jalur distribusi komoditas pertanian; Christopher (2016). Logistics & Supply Chain Management. Pearson Education, yang menjelaskan konsep backhaul sebagai strategi optimasi kapasitas dan pengurangan empty return dalam sistem logistik; Kovács & Spens (2011). Studi humanitarian logistics tentang pemanfaatan armada bantuan dan fleksibilitas jaringan distribusi dalam kondisi bencana.

Read More

Kesiapan Humanitarian Logistics Indonesia dengan Melihat Kasus Gempa Filipina dan Pelajaran dari Jepang

Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng besar. Kondisi ini membuat Indonesia sangat rawan gempa besar dan tsunami. Salah satunya adalah ancaman gempa megathrust di selatan Jawa yang dapat memicu tsunami tinggi dan merusak pelabuhan serta jalur distribusi (Adventari et al., 2021). Di sisi lain belum lama ini terjadi gempa 6,9 magnitudo di Cebu, Filipina yang menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya. Banyak bangunan dan infrastruktur rusak berat. Sehingga, pemerintah Filipina menetapkan state of calamity sesaat setelah gempa. Pemerintah mengerahkan berbagai lembaga, termasuk coast guard, untuk membawa tenaga medis, tim SAR, dan air minum ke pusat evakuasi. Maskapai domestik juga diminta membantu mengangkut barang bantuan secara gratis. Negara tetangga dan lembaga internasional juga mengirim tim SAR, bantuan medis, dan peralatan logistik. Namun banyak hambatan masih terjadi. Jalan rusak dan titik distribusi bantuan jauh dari pusat kerusakan. Kapasitas pengungsian terbatas sehingga banyak warga harus tinggal di tenda dengan sanitasi yang buruk. Koordinasi antara pemerintah pusat dan lokal juga sulit, terutama dalam 72 jam pertama yang sangat krusial untuk menyelamatkan korban. Indonesia menghadapi tantangan serupa. Penelitian di Surabaya menunjukkan bahwa kesiapan penampungan darurat baru mencapai sekitar 0 – 34 persen dari standar minimum. Standar ini mencakup air bersih, sanitasi, keamanan lokasi, dan akses distribusi (Irsya dan Pamungkas, 2021). Artinya, jika terjadi gempa besar, banyak titik penampungan mungkin belum siap digunakan. Pengalaman gempa Palu tahun 2018 juga menegaskan masalah ini. Distribusi bantuan terhambat oleh jalan dan jembatan yang rusak. Koordinasi antar lembaga berjalan lambat. Moda distribusi alternatif seperti laut, udara, dan drone masih terbatas pemakaiannya (Satriawan, 2023). Kondisi ini membuat banyak bantuan terlambat sampai ke warga. Di sisi lain, Jepang memberi contoh praktik yang lebih siap. Jepang memiliki jalur transportasi darurat dan rute alternatif yang sudah direncanakan sebelum bencana. Ketika jalan utama rusak, bantuan masih bisa bergerak lewat rute lain. Negara ini juga memiliki budaya mitigasi kuat melalui kegiatan seperti Bousai no Hi dan latihan rutin di sekolah, komunitas, dan kantor (Widiandari, 2021). Saat gempa Noto Peninsula 1 Januari 2024, Jepang memanfaatkan peta kerusakan real-time dan sistem informasi yang terhubung antar lembaga. Data ini membantu mengatur rute distribusi bantuan dengan lebih cepat. Studi geolokasi menunjukkan banyak warga mulai evakuasi hanya dalam 2–6 menit setelah gempa. Hal ini menandakan tingkat kesiapsiagaan masyarakat yang tinggi (板谷智也 & イタタニトモヤ, 2024). Jepang juga memiliki banyak bangunan publik dan fasilitas evakuasi yang dirancang tahan gempa. Meski begitu, laporan masih mencatat kekurangan air dan sanitasi di beberapa lokasi pengungsian saat gempa Noto. Artinya, bahkan sistem yang sudah maju pun masih perlu terus diperbaiki (板谷智也 & イタタニトモヤ, 2024). Dari tiga contoh ini, terlihat perbedaan kapasitas humanitarian logistics antara negara berkembang dan negara maju. Filipina dan Indonesia sama-sama rentan terhadap kerusakan infrastruktur, kurangnya penampungan yang layak, serta koordinasi yang belum optimal. Jepang menunjukkan bahwa infrastruktur yang maju, jalur distribusi alternatif, teknologi informasi, dan budaya kesiapsiagaan dapat menekan jumlah korban meski gempa sangat kuat. Untuk menghadapi ancaman megathrust, Indonesia perlu mengambil pelajaran ini. Beberapa langkah penting adalah memperkuat infrastruktur evakuasi dan penampungan darurat, memperluas moda distribusi darat, laut, dan udara, serta mengembangkan sistem informasi logistik terpadu (Adventari et al., 2021). Selain itu, edukasi dan latihan kebencanaan bagi masyarakat perlu digencarkan agar warga dapat bereaksi cepat ketika gempa terjadi (Widiandari, 2021). Sumber: Adventari et al. (2021). Kajian kerentanan gempa megathrust di Indonesia dan implikasinya terhadap infrastruktur pelabuhan dan jalur distribusi; Laporan media internasional dan pemerintah Filipina terkait gempa magnitudo 6,9 di Cebu serta penetapan state of calamity dan pengerahan bantuan kemanusiaan lintas lembaga; Irsya dan Pamungkas (2021). Studi kesiapan penampungan darurat bencana di Kota Surabaya berdasarkan standar minimum air bersih, sanitasi, keamanan, dan akses distribusi; Satriawan (2023). Analisis hambatan distribusi bantuan pascagempa Palu 2018 dan keterbatasan pemanfaatan moda alternatif seperti laut, udara, dan drone; Widiandari (2021). Studi mitigasi bencana dan budaya kesiapsiagaan masyarakat Jepang melalui pendidikan, latihan rutin, dan perencanaan jalur darurat; 板谷智也 & イタタニトモヤ (2024). Studi geolokasi dan sistem informasi kebencanaan pada gempa Noto Peninsula Jepang 1 Januari 2024, termasuk pola evakuasi cepat masyarakat dan tantangan sanitasi di lokasi pengungsian.

Read More

Jl. D.I Panjaitan No. 128 Purwokerto 53147, Jawa Tengah – Indonesia

Telp

WA

Email

Website Official

Website PMB

Negara

Fakultas Teknik Telekomunikasi dan Elektro (FTTE)

Fakultas Informatika (FIF)

Fakultas Rekayasa Industri dan Desain (FRID)

Copyright ©2024 All Rights Reserved By Telkom University