Perkembangan dunia digital saat ini telah melahirkan temuan ilmiah berupa teknologi yang mampu menyelesaikan masalah manusia dengan mudah sebagaimana dikenal dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Penggunaan Artificial Intelligence (AI) pada era ini juga telah meluas ke berbagai bidang termasuk pendidikan. Hal ini menyebabkan pendidik perlu beradaptasi dengan mengenal apa itu AI hingga mampu menerapkannya pada konteks yang tepat dalam proses belajar mengajar sesuai dengan kebutuhan dengan mempertimbangkan etika yang benar. Menanggapi hal ini, dosen teknik logistik menyadari perlunya melakukan pengabdian masyarakat dalam bentuk pelatihan penggunaan AI untuk pembuatan konten pembelajaran. Hal ini dilakukan agar para pendidik mampu menyampaikan materi pelajaran dengan cara yang menarik dan inovatif sehingga dapat meningkatkan minat dan fokus peserta didik dalam belajar. Kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk “Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Untuk Pengembangan Konten Pembelajaran” dengan melibatkan guru-guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Tegal sebagai peserta kegiatan. Pelatihan ini secara langsung dilakukan oleh Lukman Adhitama, S.T., M.Sc. dan Syarif Hidayatuloh S.T., M.T. dengan terlebih dahulu dibuka oleh perwakilan guru MAN 1 Tegal. Pada acara tersebut pemaparan materi dibagi dalam dua sesi yaitu pengenalan AI secara umum dan pelatihan penggunaan mentimeter untuk membuat konten pembelajaran. Acara ini dilakukan pada hari Jumat, 31 Oktober 2025 mulai pukul 09.30 sampai dengan 11.00 WIB di Aula MAN 1 Tegal. Pelatihan yang telah dilakukan mendapat respon positif dari para peserta yang telah mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir. Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah dipelajari pada proses pembelajaran secara langsung. Dengan demikian, hasil pelatihan dapat memiliki dampak yang luas.
Read MoreProgram Studi Teknik Logistik Telkom University Purwokerto Kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan wawasan global melalui kegiatan International Guest Lecturer yang diselenggarakan pada Selasa, 23 Desember 2025, bertempat di Aula Rachmat Effendi, Telkom University Purwokerto. Kegiatan ini mengangkat topik “Drone-Asissted Routing and Evolutionary Algorithms : Prospects in Humanitarian Operations” yang relevan dengan perkembangan teknologi dan tantangan logistic modern. Acara ini menghadirkan narasumber internasional, Dr. Setyo Tri Windras Mara, PhD, seorang Postdoctoral Researcher di University of New South Wales, Australia. Dalam pemaparannya, Dr. Setyo membahas bagaimana pemanfaatan drone-assisted routing dan evolutionary algorithms dapat menjadi Solusi inovatif dalam mendukung operasi kemanusiaan, khususnya pada distribusi bantuan di wilayah yang sulit dijangkau. Untuk menjawab tantangan tersebut, Dr. Setyo memperkenalkan konsep evolutionary algorithms, yaitu metode optimasi berbasis prinsip evolusi biologis yang mampu menghasilkan Solusi terbaik dari permasalahan kompleks. Algoritma ini sangat relevan dalam menyelesaikan permasalahan logistic seperti Vehicle Routing Problem (VRP), yang menjadi salah satu focus pembahasan dalam acara ini, Melalui kombinasi drone-asissted routing dan evolutionary algorithms, mahasiswa mendapatkan gambaran bagaimana pendekatan komputasional dan teknologi dapat diaplikasikan secara nyata dalam Humanitarian Operations.Kegiatan ini mendapatkan antusiasme tinggi dari mahasiswa dan dosen yang hadir, ditandai dengan diskusi aktif serta tanya jawab yang interaktif. Diharapkan, melalui kegiatan International Guest Lecturer ini, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman global, meningkatkan minat riset, serta mengembangkan inovasi yang berdampak nyata bagi Masyarakat.
Read MoreIndonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung berapi. Dalam kondisi darurat, kecepatan dan ketepatan distribusi bantuan logistik menjadi faktor krusial dalam menyelamatkan korban jiwa. Namun, pada banyak kasus, jalur darat justru menjadi hambatan utama akibat kerusakan infrastruktur seperti jalan terputus, jembatan runtuh, atau akses wilayah yang terisolasi. Kondisi ini menuntut adanya solusi logistik yang mampu melampaui keterbatasan jalur konvensional, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi drone. Apa itu Drone?Drone atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) adalah pesawat tanpa awak yang mampu beroperasi di udara tanpa pilot di dalamnya. Pada awal pengembangannya, drone digunakan terutama untuk kepentinan militer, namun seiring perkembangan teknologi, pemanfaatannya meluas ke berbagai bidang. Drone dapat dioperasikan dari jarak jauh menggunakan perangkat kendali maupun melalui sistem komputer yang telah di program sebelumnya. Selain itu, drone dilengkapi dengan beragam sensor dan kamera yang mendukung pelaksanaan berbagai fungsi. Drone sebagai Inovasi dalam Logistik BencanaDalam konteks logistik bencana, drone menjadi inovasi yang menawarkan solusi cepat dan fleksibel. Penanganan drone dalam konteks situasi darurat dan penanganan bencana telah berkembang selama beberapa decade terakhir. Pada tahap awal, pemanfaatan drone lebih banyak difokuskan pada kepentingan militer, khususnya untuk kegiatan pengintaian, pemantauan, dan pengawasan. Namun, seiring kemajuan teknologi serta semakin terjangkaunya biaya produksi, drone mulai diadopsi dalam sector kemanusiaan, terutama untuk mendukung respons terhadap bencana alam dan kondisi darurat (Puspitasari dkk., 2021). Drone telah menunjukkan efektivitasnya sebagai alat pendukung penting dalam penyediaan data visual dan termal secara real-time. Informasi ini memungkinkan tim penyelamat untuk dengan cepat mengidentifikasi keberadaan korban, menilai tingkat kerusakan infrastruktur, serta menentukan jalur evakuasi yang aman secara lebih efisien. Selain itu, drone juga dimanfaatkan untuk menyalurkan bantuan medis, makanan, dan peralatan penyelamatan ke wilayah yang sulit dijangkau oleh tim darat, sehingga dapat mempercepat proses penanganan dan meningkatkan peluang keselamatan korban dalam situasi darurat yang kritis (Nainggolan & Karomoy, t.t.). Pemanfaatan drone dalam penanganan situasi darurat dan bencana turut membuka peluang baru bagi pengembangan teknologi dan inovasi. Berbagai perusahaan serta organisasi kemanusiaan terus berupaya meningkatkan kapabilitas drone agar mampu mendeteksi kondisi bencana dan memberikan respons yang lebih cepat, akurat, dan efektif. Keuntungan Penggunaan DronePenggunaan drone dalam logistik bencana memiliki sejumlah keuntungan :1. Pada kegiatan survey dan pemetaan, drone mampu terbang pada ketinggian rendah dan menjangkau wilayah yang sulit diakses, sehingga menghasilkan peta dengan tingkat akurasi dan detail yang lebih tinggi.2. Dalam pemantauan lingkungan, drone unggul dalam menyediakan data secara real-time serta memantau perubahan kondisi lingkungan secara lebih cepat.3. Drone juga berperan dalam operasi penyelamatan dan penanganan darurat, termasuk pencairan korban dan penyaluran bantuan medis di wilayah yang sulit dijangkau. Tantangan Penggunaan DroneMeskipun menawarkan berbagai keunggulan, pemanfaatan drone dalam kegiatan logistic masih menghadapi sejumlah keterbatasan dan tantangan yang perlu diperhatikan secara serius, antara lain sebagai berikut :1. Kapasitas muatan terbatasSebagian besar drone hanya mampu membawa beban ringan hingga menengah, sehingga belum dapat menggantikan moda transportasi konvesional untuk mengiriman barang berukuran besar atau berbobot berat.2. Keterbatasan daya tahan baterai dna jarak tempuhWaktu operasional drone masih terbatas akibat kapasitas baterai yang belum optimal. Kondisi ini membatasi efisiensi pengiriman, khususnya di wilayah yang luas atau memiliki banyak titik distribusi.3. Pengaruh kondisi cuaca dan lingkunganOperasional drone sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Angin kencang, hujan lebat, maupun cuaca ekstrem lainnya dapat mengganggu kestabilan penerbangan, meningkatkan risiko kecelakaan, serta berpotensi merusak perangkat dan barang yang dikirim. Pemanfaatan drone dalam logistik bencana menunjukkan potensi besar sebagai solusi inovatif untuk mengatasi keterbatasan akses dan waktu dalam situasi darurat. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kapasitas muatan, daya tahan baterai, dan pengaruh kondisi cuaca, peran drone tetap signifikan dalam mendukung distribusi bantuan, pemetaan, dan operasi penyelamatan. Dengan pengembangan teknologi yang berkelanjutan, dukungan regulasi yang adaptif, serta integrasi yang baik dengan moda transportasi logistik lainnya, drone dapat menjadi bagian penting dari sistem logistik kemanusiaan yang lebih responsif, efektif, dan tangguh dalam menghadapi bencana di indonesia. Sumber :Oaktree (2025). Drone dan masa depan logistik serta pengiriman; Fiqri et al. (2024). Penggunaan drone untuk meningkatkan respons cepat dalam penanganan kecelakaan pesawat di area terpencil; Puspitasari et al. (2021). Pengembangan desain drone sebagai alat bantu evakuasi bencana; Nainggolan & Karamoy (t.t.). Pengoperasian pesawat tanpa awak (drone) di ruang udara Indonesia ditinjau dari regulasi penerbangan.
Read MorePada akhir 2025, ditengah upaya pemulihan pascabanjir dan tanah longsor komoditas cabai justru menjadi sorotan karena hasil panennya yang melimpah akan tetapi distribusinya terhambat sehingga pasar tidak bisa menyerapnya dengan baik. Kondisi agroklimat yang mendukung dan pola tanam serentak membuat volume produksi cabai meningkat signifikan. Biasanya di akhir tahun, banyak petani di Aceh Tengah dan Bener Meriah memasuki musim panen cabai yang intensif, sehingga volume komoditas di tingkat petani sangat signifikan. Secara teoritis, peningkatan produksi ini seharusnya memperkuat pendapatan petani dan memperlancar suplai ke pasar lokal maupun nasional. Namun, kenyataannya di lapangan menunjukkan kondisi yang berlawanan. Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh menyebabkan kerusakan pada jaringan transportasi darat, yang selama ini menjadi roda pemggerak distribusi cabai keluar daerah. Jalur logistik utama terhambat, kapasitas angkut menurun, dan waktu tempuh meningkat. Akibatnya, terjadi ketimpangan antara sisi produksi dan distribusi, yang memicu penumpukan pasokan di tingkat petani. Bottleneck Logistik dan Oversupply Lokal Dari sudut pandang teknik logistik, situasi ini dapat dikategorikan sebagai distribution bottleneck. Produksi berjalan normal bahkan meningkat, akan tetapi pada segmen transportasi terjdi kegagalan fungsi. Cabai sebagai komoditas yang mudah rusak dan memiliki toleransi waktu distribusi yang rendah. Ketika jalur darat tidak berfungsi optimal dan pasar lokal tidak mampu menyerap, maka terciptalah oversupply pada tingkat produksi. Dampaknya dapat langsung terasa pada harga di tingkat petani, yang turun tajam akibat tekanan pasokan yang tidak tersalurkan. Secara ekonomi, nilai tambah komoditas hilang bukan karena rendahnya kualitas atau permintaan, melainkan karena kegagalan sistem distribusi. Backhaul Logistik sebagai Solusi Adaptif Dalam konteks krisis distribusi tersebut, konsep backhaul logistik menjadi relevan dan strategis. Backhaul merujuk pada pemanfaatan kapasitas angkut pada perjalanan balik armada transportasi yang sebelumnya membawa muatan, agar tidak kembali dalam kondisi kosong (empty return). Karena kondisi ini relevan dengan kondisi nyata, maka muncul gagasan pemanfaatan backhaul logistik dari Ferry Irwandi, seorang influencer sekaligus relawan. Ferry menyoroti kondisi armada bantuan bencana terutama pesawat angkut yang kembali dari Aceh dalam kondisi kosong (empty return), sementara hasil panen cabai petani menumpuk dan tidak terserap pasar. Armada logistik termasuk pesawat angkut yang digunakan untuk mengirim bantuan kemanusiaan memiliki potensi kapasitas balik yang besar namun sebelumnya tidak dimanfaatkan. Pemanfaatan backhaul untuk mengangkut cabai keluar Aceh merupakan bentuk optimasi kapasitas transportasi dalam kondisi darurat. Backhaul sebagai Strategi Efisiensi dan Stabilitas Ekonomi Konsep backhaul yang diusulkan Ferry Irwandi relevan secara teknis maupun ekonomis. Backhaul memungkinkan pemanfaatan kapasitas transportasi yang sebelumnya terbuang, sehingga meningkatkan efisiensi sistem logistik secara keseluruhan. Kasus ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan sangat bergantung pada ketahanan logistik. Sistem distribusi yang terlalu bergantung pada satu moda transportasi menjadi rentan terhadap gangguan infrastruktur. Integrasi backhaul ke dalam perencanaan logistik pangan, terutama di wilayah rawan bencana, menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya kerugian ekonomi akibat kegagalan distribusi. Sumber: Antara News (2025). Laporan penyerapan dan pengiriman cabai Aceh menggunakan pesawat Hercules TNI AU sebagai bagian dari distribusi bantuan pascabencana; Berita Jakarta (2025). Laporan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait pembelian dan distribusi cabai dari Aceh untuk stabilisasi harga dan penyerapan hasil panen petani; Radar Malioboro Jawa Pos Group (2025). Pemberitaan inisiatif Ferry Irwandi dalam pemanfaatan penerbangan balik (backhaul) pesawat bantuan untuk mengangkut cabai petani Aceh ke Jakarta; Herald Indonesia (2025). Laporan gagasan barter udara Ferry Irwandi yang memanfaatkan armada bantuan kemanusiaan agar tidak kembali kosong dan berfungsi sebagai jalur distribusi komoditas pertanian; Christopher (2016). Logistics & Supply Chain Management. Pearson Education, yang menjelaskan konsep backhaul sebagai strategi optimasi kapasitas dan pengurangan empty return dalam sistem logistik; Kovács & Spens (2011). Studi humanitarian logistics tentang pemanfaatan armada bantuan dan fleksibilitas jaringan distribusi dalam kondisi bencana.
Read MoreIndonesia berada di pertemuan tiga lempeng besar. Kondisi ini membuat Indonesia sangat rawan gempa besar dan tsunami. Salah satunya adalah ancaman gempa megathrust di selatan Jawa yang dapat memicu tsunami tinggi dan merusak pelabuhan serta jalur distribusi (Adventari et al., 2021). Di sisi lain belum lama ini terjadi gempa 6,9 magnitudo di Cebu, Filipina yang menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya. Banyak bangunan dan infrastruktur rusak berat. Sehingga, pemerintah Filipina menetapkan state of calamity sesaat setelah gempa. Pemerintah mengerahkan berbagai lembaga, termasuk coast guard, untuk membawa tenaga medis, tim SAR, dan air minum ke pusat evakuasi. Maskapai domestik juga diminta membantu mengangkut barang bantuan secara gratis. Negara tetangga dan lembaga internasional juga mengirim tim SAR, bantuan medis, dan peralatan logistik. Namun banyak hambatan masih terjadi. Jalan rusak dan titik distribusi bantuan jauh dari pusat kerusakan. Kapasitas pengungsian terbatas sehingga banyak warga harus tinggal di tenda dengan sanitasi yang buruk. Koordinasi antara pemerintah pusat dan lokal juga sulit, terutama dalam 72 jam pertama yang sangat krusial untuk menyelamatkan korban. Indonesia menghadapi tantangan serupa. Penelitian di Surabaya menunjukkan bahwa kesiapan penampungan darurat baru mencapai sekitar 0 – 34 persen dari standar minimum. Standar ini mencakup air bersih, sanitasi, keamanan lokasi, dan akses distribusi (Irsya dan Pamungkas, 2021). Artinya, jika terjadi gempa besar, banyak titik penampungan mungkin belum siap digunakan. Pengalaman gempa Palu tahun 2018 juga menegaskan masalah ini. Distribusi bantuan terhambat oleh jalan dan jembatan yang rusak. Koordinasi antar lembaga berjalan lambat. Moda distribusi alternatif seperti laut, udara, dan drone masih terbatas pemakaiannya (Satriawan, 2023). Kondisi ini membuat banyak bantuan terlambat sampai ke warga. Di sisi lain, Jepang memberi contoh praktik yang lebih siap. Jepang memiliki jalur transportasi darurat dan rute alternatif yang sudah direncanakan sebelum bencana. Ketika jalan utama rusak, bantuan masih bisa bergerak lewat rute lain. Negara ini juga memiliki budaya mitigasi kuat melalui kegiatan seperti Bousai no Hi dan latihan rutin di sekolah, komunitas, dan kantor (Widiandari, 2021). Saat gempa Noto Peninsula 1 Januari 2024, Jepang memanfaatkan peta kerusakan real-time dan sistem informasi yang terhubung antar lembaga. Data ini membantu mengatur rute distribusi bantuan dengan lebih cepat. Studi geolokasi menunjukkan banyak warga mulai evakuasi hanya dalam 2–6 menit setelah gempa. Hal ini menandakan tingkat kesiapsiagaan masyarakat yang tinggi (板谷智也 & イタタニトモヤ, 2024). Jepang juga memiliki banyak bangunan publik dan fasilitas evakuasi yang dirancang tahan gempa. Meski begitu, laporan masih mencatat kekurangan air dan sanitasi di beberapa lokasi pengungsian saat gempa Noto. Artinya, bahkan sistem yang sudah maju pun masih perlu terus diperbaiki (板谷智也 & イタタニトモヤ, 2024). Dari tiga contoh ini, terlihat perbedaan kapasitas humanitarian logistics antara negara berkembang dan negara maju. Filipina dan Indonesia sama-sama rentan terhadap kerusakan infrastruktur, kurangnya penampungan yang layak, serta koordinasi yang belum optimal. Jepang menunjukkan bahwa infrastruktur yang maju, jalur distribusi alternatif, teknologi informasi, dan budaya kesiapsiagaan dapat menekan jumlah korban meski gempa sangat kuat. Untuk menghadapi ancaman megathrust, Indonesia perlu mengambil pelajaran ini. Beberapa langkah penting adalah memperkuat infrastruktur evakuasi dan penampungan darurat, memperluas moda distribusi darat, laut, dan udara, serta mengembangkan sistem informasi logistik terpadu (Adventari et al., 2021). Selain itu, edukasi dan latihan kebencanaan bagi masyarakat perlu digencarkan agar warga dapat bereaksi cepat ketika gempa terjadi (Widiandari, 2021). Sumber: Adventari et al. (2021). Kajian kerentanan gempa megathrust di Indonesia dan implikasinya terhadap infrastruktur pelabuhan dan jalur distribusi; Laporan media internasional dan pemerintah Filipina terkait gempa magnitudo 6,9 di Cebu serta penetapan state of calamity dan pengerahan bantuan kemanusiaan lintas lembaga; Irsya dan Pamungkas (2021). Studi kesiapan penampungan darurat bencana di Kota Surabaya berdasarkan standar minimum air bersih, sanitasi, keamanan, dan akses distribusi; Satriawan (2023). Analisis hambatan distribusi bantuan pascagempa Palu 2018 dan keterbatasan pemanfaatan moda alternatif seperti laut, udara, dan drone; Widiandari (2021). Studi mitigasi bencana dan budaya kesiapsiagaan masyarakat Jepang melalui pendidikan, latihan rutin, dan perencanaan jalur darurat; 板谷智也 & イタタニトモヤ (2024). Studi geolokasi dan sistem informasi kebencanaan pada gempa Noto Peninsula Jepang 1 Januari 2024, termasuk pola evakuasi cepat masyarakat dan tantangan sanitasi di lokasi pengungsian.
Read MoreDistribusi vaksin COVID-19 merupakan salah satu operasi logistik paling kompleks dalam sejarah kesehatan global. Keberhasilan program vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan dosis, tetapi juga oleh tata kelola distribusi dan pengawasan mutu sepanjang alur rantai pasok. Data global menunjukkan sebagian besar negara menerapkan vaksinasi universal atau memprioritaskan kelompok rentan, meskipun beberapa negara seperti Eritrea tidak memiliki penerima vaksin sama sekali dan Afghanistan serta Liberia hanya memberikan vaksin kepada pekerja kunci dan kelompok rentan (Hale et al., 2021). Kondisi ini menggambarkan adanya kesenjangan, tetapi juga kemampuan logistik masing-masing negara. JENIS JENIS VAKSIN COVID-19:Jenis vaksin COVID-19 yang digunakan secara global pun beragam, meliputi: Tantangan terbesar justru terletak pada aspek produksi massal, penyimpanan, dan distribusi vaksin yang masih minim dilaporkan di banyak negara (Ganasegeran et al., 2021). Jika tantangan ini tidak ditangani secara cepat, proses vaksinasi dapat berjalan lambat dan mengurangi peluang tercapainya kekebalan kelompok. Dalam kondisi inilah sistem cold chain menjadi komponen kunci untuk memastikan kualitas vaksin tetap terjaga sepanjang distribusi. APA ITU COLD CHAIN? Cold chain merupakan sistem yang menjaga kualitas produk biologis sejak proses produksi hingga titik pemberian dengan memastikan bahwa vaksin disimpan dan diangkut pada rentang suhu yang direkomendasikan. Karena vaksin bersifat sangat sensitive, maka penangannya harus dilakukan secara teliti dan konsisten. Ketidakstabilan suhu dapat menyebabkan kerusakan vaksin dan berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Chold chain dapat berupa standar (2-8oC) maupun deep-freeze (hingga -70oC), dengan kebutuhan infrastruktur yang luas dan biaya operasional yang tinggi. PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN VAKSIN COVID-19Dalam proses penyimpanan dan pengemasan, vaksin dikemas dalam beberapa lapisan. Pengemasan primer umumnya terdiri atas vial kaca, jarum suntik, penutup, dan segel. Kemudian, pengemasan sekunder dan tersier digunakan untuk mengurangi volume, menekan biaya logistik, serta menurunkan jejak karbon. Di fasilitas kesehatan, vaksin biasanya disimpan dalam lemari es atau freezer khusus farmasi, bahkan dalam beberapa kondisi dapat menggunakan kulkas rumah tangga yang memenuhi standar tertentu. Setiap jenis vaksin juga memiliki kebutuhan penyimpanan yang berbeda, yaitu: TRANSPORTASI DAN DISTRIBUSI VAKSIN COVID-19Pada tahap transportasi dan distribusi, persyaratan logistic vaksin harus memenuhi standar farmasi untuk pengiriman melalui udara, laut, maupun darat. Produsen vaksin wajib mematuhi kebijakan Food and Drug Authority serta ketentuan Federal Food, Drug, and Cosmetic Act. Untuk penggunaan darurat, otoritas menerbitkan Emergency Use Authorisation (EUA) yang mencakup dua jenis fact sheet sebelum vaksin dikirim ke berbagai negara, yaitu (Termini, 2021) : 1. Healthcare Providers Administering Vaccine (Vaccination Providers) 2. Recipients & Caregivers Proses distribusi melibatkan banyak stakeholder seperti pengirim, freight forwarder, perusahaan kargo udara dan darat, serta agen penanganan di titik tujuna (de Boeck et al., 2020). Seluruh pihak bekerja dalam suatu gugus tugas yang menangani aspek kesehatan-lingkungan, hubungan public, kebijakan pemerintah, komunikasi, serta kelangsungan operasi rantai pasok. Karena vaksin sangat rentan terhadap fluktuasi suhu, setiap pemangku kepentngan memiliki peran penting dalam menjaga kualitasnya, sebab paparaan suhu yang tidak sesuai dapat merusak vaksin dan mengganggu jalannya program vaksinasi. Sumber: Hale et al. (2021). Pandemic policy database; Ganasegeran et al. (2021). COVID-19 reproduction number & herd immunity; Fahrni et al. (2022). Cold chain logistics management; de Boeck et al. (2020). Vaccine distribution chains; Termini (2021). Public health & liberty in vaccination.
Read MoreDi dunia kerja, ada istilah yang sering muncuk tapi belum tentu dipahami semua orang, yaitu Silo Mentality. Kata Silo sendiri berarti tempat penyimpanan yang terpisah. Dalam organisasi, istilah ini menggambarkan pola pikir ketika tiap bagian hanya fokus pada kepentingan sediri, tanpa melihat tujuan besar perusahaan. Bayangkan sebuah gudang yang terbagi menjadi beberapa ruang tertutup tanpa akses keluar. Jika setiap ruang hanya memikirkan stoknya sendiri, alur distribusi pasti jadi kacau. Hal yang sama bisa terjadi di dalam perusahaan ketika setiap departemen bekerja sendiri-sendiri, sehingga komunikasi tersendat dan kolaborasi melemah. Silo mentality biasanya muncul karena beberapa hal. Berikut ini beberapa faktornya: Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dampak silo terhadap organisasi sangat nyata. Sekitar 70% profesional dan eksekutif yang bergerak di bidang pengalaman pelanggan menganggap mentalitas silo sebagai hambatan terbesar dalam memberikan layanan yang baik (Harvard Business Review, 2025). Data ini memperlihatkan bahwa pola pikir yang memisahkan tim tidak hanya mengganggu komunikasi internal, tetapi juga dapat merusak kualitas interaksi dengan pelanggan dan mengurangi kecepatan perusahaan dalam merespon kebutuhan pasar. Untuk menghadapi masalah ini, banyak ahli sepakat bahwa kunci membongkar silo terletak pada “kerja sama, komunikasi, dan kolaborasi” yang konsisten di setiap tingkatan organisasi (Salesforce.com). Ketiganya membantu membangun jembatan antar departemen sehingga setiap individu dapat memahami bahwa keberhasilan perusahaan tidak bisa dicapai oleh satu tim saja. Bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, mengenal istilah seperti silo mentality membantu memahami bagaimana dinamika organisasi berjalan. Pola piker ini tidak hanya terjadi di perusahaan besar, bahkan dalam proyek kecil di kampus, sikap ingin berjalan sendiri bisa menghambat keberhasilan kelompok. Dengan membiasakan diri untuk berkomunikasi dengan baik dan mengutamakan tujuan bersama, kita dapat membawa semangat kolaborasi yang sehat ke mana pun kita melangkah. Sumber : Harvard Business Review. (2025, Maret 17). 3 types of silos that stifle collaboration—and how to dismantle them; Salesforce. (n.d.). Breaking down sales silos.
Read MoreFenomena Over Dimension and Over Loading atau ODOL adalah sebuah masalah besar dalam sektor logistik Indonesia. Karena ODOL menyebabkan terhambatnya efisiensi, keamanan, dan daya saing nasional. ODOL sendiri merupakan kondisi ketika kendaraan angkutan barang melebihi batas dimensi dan muatan yang diizinkan pemerintah, sehingga menyebabkan kerusakan jalan, peningkatan biaya logistik, dan risiko kecelakaan yang tinggi. Bagi pelaku usaha praktik ODOL ini memang terlihat menguntungkan, tapi faktanya praktik ini justru merusak jalan, bikin boros BBM, dan risiko tinggi kecelakaan. Oleh karena itu, pemerintah menerapkan kebijakan Zero ODOL yang resmi diterapkan secara nasional mulai tahun 2025. Tujuannya adalah menekan tingkat kecelakaan dan menjaga infrastruktur jalan dari kerusakan akibat kendaraan yang melebihi kapasitas muatan. Namun, kebijakan ini menimbulkan tantangan baru yakni kenaikan biaya logistik yang signifikan. Berikut ini merupakan 3 dampak utama Zero ODOL terhadap biaya logistik beserta solusinya! Kebijakan Zero ODOL mewajibkan kendaraan pengangkut barang atau niaga hanya boleh mengangkut sesuai kapasitas standar menyebabkan Perusahaan harus menambah jumlah perjalanan untuk mengirim barang dengan volume yang sama. Hal ini, menimbulkan lonjakan biaya bahan bakar, operasional armada, tol, serta tenaga kerja. Menurut ALI (Asosiasi Logistik Indonesia), biaya logistic meningkat antara 30% sampai 40% sejak implementasi penuh ZERO ODOL (Kontan.co.id, 2025). Biaya transportasi yang meningkat menyebabkan biaya distribusi barang yang ikut melonjak. Lonjakan ini cenderung dibebankan ke konsumen dalam bentuk harga barang yang lebih tinggi. Sektor yang paling terdampak adalah barang pokok dan kebutuhan sehari-hari di wilayah dengan akses logistic yang terbatas. Padahal menurut Bappenas, sebelum penerapan kebijakan inipun, biaya logistik Indonesia sudah berada di angka 14,29% dari PDB, lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand (Bisnis.com, 2023). Pelaku UMKM dan pengusaha daerah umumnya memiliki kendaraan angkutnya sendiri ataupun menggunakan kendaraan angkut yang di sewa namun, sering kali belum mampu mengganti armada logistik mereka sesuai regulasi Zero ODOL. Akibatnya, banyak usaha kecil yang kehilangan daya saing karena biaya kirim naik, margin usaha turun, dan distribusi menjadi lebih lambat. Lalu, bagaimana dengan solusinya? Ini dia solusi yang dapat diterapkan! Solusi agar kebijakan Zero ODOL tidak memberatkan meliputi penerapan transportasi multimoda yang menggabungkan angkutan jalan, laut, dan kereta untuk efisiensi biaya; penguatan ekosistem digital melalui National Logistic Ecosystem (NLE). Digitalisasi proses logistik melalui NLE mampu memangkas birokrasi, mempercepat alur distribusi, dan meningkatkan transparansi antara pelaku usaha dan pemerintah. Selain itu, Pemerintah perlu memberi bantuan pembiayaan untuk penggantian kendaraan yang sesuai standar ODOL. Peningkatan kapasitas SDM logistik menjadi kunci agar pelaku usaha dapat beradaptasi dengan sistem baru secara optimal. Pemberian insentif pembiayaan untuk konversi armada yang sesuai standar dan pelatihan SDM diberikan agar adaptasi kebijakan berjalan optimal dan berkelanjutan (Sitorus, 2022).Sumber: Kontan.co.id (2025). Urgensi Roadmap Kebijakan ODOL dan Hambatan Logistik Nasional; Bappenas. (2023). Ongkos logistik RI 14,29 persen, Bappenas: Negara maju 8 persen. Bisnis.com; Sitorus, B. (2022). Peranan Multimoda dan NLE. Jurnal Manajemen Bisnis Transportasi dan Logistik, Vol.8 No.1.
Read MoreCilacap, 27 Mei 2025 – Suasana sore di Pantai Sodong, Cilacap, menjadi saksi semangat puluhan mahasiswa dari berbagai kampus. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati pemandangan laut, melainkan menjalankan misi penting yaitu melepas tukik (anak penyu) ke habitat alaminya sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian ekosistem laut. Kegiatan ini merupakan bagian program REACT (Reach and Action) dari Digital Collaboration for Sustainability (DCS) Telkom University. Berawal dari Tim ECORISE Dinda Natasya Artaviana (S1 Teknik Logistik), Muhammad Hilmiy Nasthama (S1 Teknik Logistik) Dona Nur Tamara S1 Sains Data menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa mampu berperan aktif dalam pelestarian lingkungan. Ketua Tim ECORISE, Dinda Natasya Artaviana, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-14: kehidupan di bawah laut.“Lewat pelepasan tukik ini, kami ingin menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil. Kami ingin meningkatkan kesadaran bahwa laut juga harus kita jaga bersama,” kata Dinda. Kegiatan dimulai pukul 14.30 WIB dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan laporan kegiatan dari Ketua Tim Ecorise Dinda Natasya Artaviana, kemudian sambutan dari Kaprodi Teknik Logistik Ibu Nabila Noor Qisthani, S.T., M.T., serta Direktur DCS Telkom University. Setelah itu, peserta mengikuti sesi edukasi mengenai ekosistem penyu yang dipandu oleh tim konservasi setempat. Dalam sesi edukasi tersebut, peserta belajar bahwa penyu kerap menjadi korban pencemaran laut. Pak Jumawan, pengelola konservasi penyu Cilacap, membagikan kisah nyata tentang seekor penyu yang tidak mau makan karena menelan sampah plastik. “Waktu kami periksa, ternyata di kotorannya ada serpihan plastik. Ini bukti bahwa sampah di laut sangat berbahaya bagi hewan laut,” ujarnya. Dalam kegiatan ini, Ketua Program Studi Teknik Logistik, Ibu Nabila Noor Qisthani, S.T., M.T., turut menyampaikan pandangannya. Ia menekankan bahwa kegiatan ini sangat relevan dengan semangat keberlanjutan yang juga menjadi bagian dari sistem rantai pasok modern.“Sebagai bagian dari program studi yang menekankan pentingnya keberlanjutan dalam sistem logistik, kami ingin mahasiswa belajar langsung tentang bagaimana pelestarian lingkungan bisa berjalan seiring dengan praktik logistik. Kegiatan ini memberi pengalaman yang sangat bermakna bagi mereka,” tuturnya. Tukik yang dilepas adalah jenis penyu lekang, salah satu spesies yang kini jumlahnya terus menurun. Pelepasan dilakukan sekitar pukul 16.00 WIB. Waktu tersebut dipilih karena dianggap paling aman dari serangan predator laut.“Waktu sore adalah waktu terbaik untuk tukik menuju laut. Suhu lebih bersahabat, dan risiko ancaman dari hewan pemangsa jauh lebih kecil,” jelas Pak Jumawan. Sebanyak 50 mahasiswa turut serta dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari beragam program studi dan kampus, seperti UGM, Amikom Yogyakarta, Amikom Purwokerto, serta berbagai jurusan di Telkom University Purwokerto, seperti Teknik Informatika, Sains Data, DKV, Sistem Informasi, dan tentu saja Teknik Logistik. Para peserta berkumpul di kampus Telkom University sejak siang, lalu berangkat bersama menuju Pantai Sodong menggunakan sepeda motor. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa isu lingkungan dapat menyatukan banyak pihak dari berbagai latar belakang. Kegiatan ini sebenarnya direncanakan sejak Maret, namun pelaksanaannya baru bisa dilakukan di akhir Mei demi menunggu tukik menetas. “Kami menyesuaikan jadwal demi kelestarian tukik. Ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi momentum yang kami tunggu dengan serius,” kata Dinda. Kegiatan ini juga didampingi langsung oleh Bapak Miftahol Arifin, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing, serta para dosen Teknik Logistik lainnya yang turut hadir dan mendukung penuh kegiatan mahasiswa di lapangan. Melalui ECORISE, mahasiswa tidak hanya belajar tentang teori pelestarian lingkungan, tetapi juga terjun langsung dalam aksi nyata. Dengan melepaskan tukik ke laut, mereka mengirim pesan bahwa konservasi bisa dimulai dari tindakan sederhana namun berdampak besar. “Semoga akan lebih banyak kegiatan kampus yang mendukung keberlanjutan, dan lebih banyak mahasiswa yang peduli terhadap lingkungan. Karena masa depan laut ada di tangan kita juga,” tutup Dinda.
Read MoreTingginya kecelakaan kerja yang menimpa para penderes gula nira, Tim Dosen dari Institut Teknologi Telkom Purwokerto telah melaksanakan program inovatif untuk meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Melalui skema Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) yang dibiayai oleh DIKTI KEMENDIKBUD, program ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat, khususnya para penderes gula nira yang rentan terhadap risiko kecelakaan kerja. Salah satu kegiatan utama dari program ini adalah pelatihan keselamatan bagi penderes gula nira, yang dilaksanakan mengingat tingginya angka kecelakaan kerja di kalangan penderes, termasuk kasus jatuh dari pohon kelapa yang sering berujung pada cedera serius bahkan kematian. Pelatihan ini memberikan edukasi tentang teknik kerja yang aman, penggunaan alat pelindung diri, serta prosedur keselamatan yang harus diikuti saat bekerja di ketinggian. “Kami sangat berterima kasih atas perhatian yang diberikan oleh Tim Dosen. Pelatihan ini membuat kami untuk lebih waspada dan memperhatikan keselatan saat bekerja,” ujar Manto, salah seorang penderes gula nira yang telah merasakan manfaat dari program ini. Para peserta dilatih untuk memahami risiko pekerjaan mereka serta cara menghindari kecelakaan yang dapat mengancam nyawa. Tak hanya berfokus pada keselamatan, program ini juga mencakup inisiatif pembangunan Dapur Bersih, sebuah fasilitas yang dirancang untuk mendukung produksi gula nira secara higienis. Dengan dapur yang lebih bersih dan terorganisir, produk gula nira yang dihasilkan oleh masyarakat diharapkan memiliki kualitas yang lebih baik dan aman untuk dikonsumsi.“Dapur bersih ini sangat membantu kami, terutama dalam menjaga kebersihan dan kualitas produk,” ungkap Siti, seorang ibu rumah tangga yang terlibat dalam produksi gula nira. Program ini juga memberikan pelatihan terkait keamanan pangan, yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya higienitas dalam proses produksi gula nira dan produk pangan lainnya. Dengan penerapan standar kebersihan yang lebih ketat, produk-produk lokal diharapkan dapat bersaing di pasar yang lebih luas. Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, program ini turut memperkenalkan pelatihan digital marketing. Masyarakat dilatih untuk memanfaatkan platform digital guna memasarkan produk mereka, sehingga dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan potensi penjualan. Dengan bantuan teknologi, para pelaku usaha lokal diharapkan dapat mengoptimalkan peluang ekonomi melalui pemasaran online. Dengan serangkaian program ini, Desa Pernasidi diharapkan mampu menciptakan perubahan yang signifikan dalam hal keselamatan kerja, kualitas produk, dan kemampuan pemasaran. Program ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dalam menciptakan inovasi yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat setempat.(*) Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Tingkatkan Keselamatan Penderes Gula, IT Telkom Purwokerto Edukasi Para Pekerja, https://jateng.tribunnews.com/2024/09/23/tingkatkan-keselamatan-penderes-gula-it-telkom-purwokerto-edukasi-para-pekerja.
Read More