Program Studi Teknik Logistik Telkom University Purwokerto Kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan wawasan global melalui kegiatan International Guest Lecturer yang diselenggarakan pada Selasa, 23 Desember 2025, bertempat di Aula Rachmat Effendi, Telkom University Purwokerto. Kegiatan ini mengangkat topik “Drone-Asissted Routing and Evolutionary Algorithms : Prospects in Humanitarian Operations” yang relevan dengan perkembangan teknologi dan tantangan logistic modern. Acara ini menghadirkan narasumber internasional, Dr. Setyo Tri Windras Mara, PhD, seorang Postdoctoral Researcher di University of New South Wales, Australia. Dalam pemaparannya, Dr. Setyo membahas bagaimana pemanfaatan drone-assisted routing dan evolutionary algorithms dapat menjadi Solusi inovatif dalam mendukung operasi kemanusiaan, khususnya pada distribusi bantuan di wilayah yang sulit dijangkau. Untuk menjawab tantangan tersebut, Dr. Setyo memperkenalkan konsep evolutionary algorithms, yaitu metode optimasi berbasis prinsip evolusi biologis yang mampu menghasilkan Solusi terbaik dari permasalahan kompleks. Algoritma ini sangat relevan dalam menyelesaikan permasalahan logistic seperti Vehicle Routing Problem (VRP), yang menjadi salah satu focus pembahasan dalam acara ini, Melalui kombinasi drone-asissted routing dan evolutionary algorithms, mahasiswa mendapatkan gambaran bagaimana pendekatan komputasional dan teknologi dapat diaplikasikan secara nyata dalam Humanitarian Operations.Kegiatan ini mendapatkan antusiasme tinggi dari mahasiswa dan dosen yang hadir, ditandai dengan diskusi aktif serta tanya jawab yang interaktif. Diharapkan, melalui kegiatan International Guest Lecturer ini, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman global, meningkatkan minat riset, serta mengembangkan inovasi yang berdampak nyata bagi Masyarakat.
Read MoreIndonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung berapi. Dalam kondisi darurat, kecepatan dan ketepatan distribusi bantuan logistik menjadi faktor krusial dalam menyelamatkan korban jiwa. Namun, pada banyak kasus, jalur darat justru menjadi hambatan utama akibat kerusakan infrastruktur seperti jalan terputus, jembatan runtuh, atau akses wilayah yang terisolasi. Kondisi ini menuntut adanya solusi logistik yang mampu melampaui keterbatasan jalur konvensional, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi drone. Apa itu Drone?Drone atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) adalah pesawat tanpa awak yang mampu beroperasi di udara tanpa pilot di dalamnya. Pada awal pengembangannya, drone digunakan terutama untuk kepentinan militer, namun seiring perkembangan teknologi, pemanfaatannya meluas ke berbagai bidang. Drone dapat dioperasikan dari jarak jauh menggunakan perangkat kendali maupun melalui sistem komputer yang telah di program sebelumnya. Selain itu, drone dilengkapi dengan beragam sensor dan kamera yang mendukung pelaksanaan berbagai fungsi. Drone sebagai Inovasi dalam Logistik BencanaDalam konteks logistik bencana, drone menjadi inovasi yang menawarkan solusi cepat dan fleksibel. Penanganan drone dalam konteks situasi darurat dan penanganan bencana telah berkembang selama beberapa decade terakhir. Pada tahap awal, pemanfaatan drone lebih banyak difokuskan pada kepentingan militer, khususnya untuk kegiatan pengintaian, pemantauan, dan pengawasan. Namun, seiring kemajuan teknologi serta semakin terjangkaunya biaya produksi, drone mulai diadopsi dalam sector kemanusiaan, terutama untuk mendukung respons terhadap bencana alam dan kondisi darurat (Puspitasari dkk., 2021). Drone telah menunjukkan efektivitasnya sebagai alat pendukung penting dalam penyediaan data visual dan termal secara real-time. Informasi ini memungkinkan tim penyelamat untuk dengan cepat mengidentifikasi keberadaan korban, menilai tingkat kerusakan infrastruktur, serta menentukan jalur evakuasi yang aman secara lebih efisien. Selain itu, drone juga dimanfaatkan untuk menyalurkan bantuan medis, makanan, dan peralatan penyelamatan ke wilayah yang sulit dijangkau oleh tim darat, sehingga dapat mempercepat proses penanganan dan meningkatkan peluang keselamatan korban dalam situasi darurat yang kritis (Nainggolan & Karomoy, t.t.). Pemanfaatan drone dalam penanganan situasi darurat dan bencana turut membuka peluang baru bagi pengembangan teknologi dan inovasi. Berbagai perusahaan serta organisasi kemanusiaan terus berupaya meningkatkan kapabilitas drone agar mampu mendeteksi kondisi bencana dan memberikan respons yang lebih cepat, akurat, dan efektif. Keuntungan Penggunaan DronePenggunaan drone dalam logistik bencana memiliki sejumlah keuntungan :1. Pada kegiatan survey dan pemetaan, drone mampu terbang pada ketinggian rendah dan menjangkau wilayah yang sulit diakses, sehingga menghasilkan peta dengan tingkat akurasi dan detail yang lebih tinggi.2. Dalam pemantauan lingkungan, drone unggul dalam menyediakan data secara real-time serta memantau perubahan kondisi lingkungan secara lebih cepat.3. Drone juga berperan dalam operasi penyelamatan dan penanganan darurat, termasuk pencairan korban dan penyaluran bantuan medis di wilayah yang sulit dijangkau. Tantangan Penggunaan DroneMeskipun menawarkan berbagai keunggulan, pemanfaatan drone dalam kegiatan logistic masih menghadapi sejumlah keterbatasan dan tantangan yang perlu diperhatikan secara serius, antara lain sebagai berikut :1. Kapasitas muatan terbatasSebagian besar drone hanya mampu membawa beban ringan hingga menengah, sehingga belum dapat menggantikan moda transportasi konvesional untuk mengiriman barang berukuran besar atau berbobot berat.2. Keterbatasan daya tahan baterai dna jarak tempuhWaktu operasional drone masih terbatas akibat kapasitas baterai yang belum optimal. Kondisi ini membatasi efisiensi pengiriman, khususnya di wilayah yang luas atau memiliki banyak titik distribusi.3. Pengaruh kondisi cuaca dan lingkunganOperasional drone sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Angin kencang, hujan lebat, maupun cuaca ekstrem lainnya dapat mengganggu kestabilan penerbangan, meningkatkan risiko kecelakaan, serta berpotensi merusak perangkat dan barang yang dikirim. Pemanfaatan drone dalam logistik bencana menunjukkan potensi besar sebagai solusi inovatif untuk mengatasi keterbatasan akses dan waktu dalam situasi darurat. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kapasitas muatan, daya tahan baterai, dan pengaruh kondisi cuaca, peran drone tetap signifikan dalam mendukung distribusi bantuan, pemetaan, dan operasi penyelamatan. Dengan pengembangan teknologi yang berkelanjutan, dukungan regulasi yang adaptif, serta integrasi yang baik dengan moda transportasi logistik lainnya, drone dapat menjadi bagian penting dari sistem logistik kemanusiaan yang lebih responsif, efektif, dan tangguh dalam menghadapi bencana di indonesia. Sumber :Oaktree (2025). Drone dan masa depan logistik serta pengiriman; Fiqri et al. (2024). Penggunaan drone untuk meningkatkan respons cepat dalam penanganan kecelakaan pesawat di area terpencil; Puspitasari et al. (2021). Pengembangan desain drone sebagai alat bantu evakuasi bencana; Nainggolan & Karamoy (t.t.). Pengoperasian pesawat tanpa awak (drone) di ruang udara Indonesia ditinjau dari regulasi penerbangan.
Read MoreDistribusi vaksin COVID-19 merupakan salah satu operasi logistik paling kompleks dalam sejarah kesehatan global. Keberhasilan program vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan dosis, tetapi juga oleh tata kelola distribusi dan pengawasan mutu sepanjang alur rantai pasok. Data global menunjukkan sebagian besar negara menerapkan vaksinasi universal atau memprioritaskan kelompok rentan, meskipun beberapa negara seperti Eritrea tidak memiliki penerima vaksin sama sekali dan Afghanistan serta Liberia hanya memberikan vaksin kepada pekerja kunci dan kelompok rentan (Hale et al., 2021). Kondisi ini menggambarkan adanya kesenjangan, tetapi juga kemampuan logistik masing-masing negara. JENIS JENIS VAKSIN COVID-19:Jenis vaksin COVID-19 yang digunakan secara global pun beragam, meliputi: Tantangan terbesar justru terletak pada aspek produksi massal, penyimpanan, dan distribusi vaksin yang masih minim dilaporkan di banyak negara (Ganasegeran et al., 2021). Jika tantangan ini tidak ditangani secara cepat, proses vaksinasi dapat berjalan lambat dan mengurangi peluang tercapainya kekebalan kelompok. Dalam kondisi inilah sistem cold chain menjadi komponen kunci untuk memastikan kualitas vaksin tetap terjaga sepanjang distribusi. APA ITU COLD CHAIN? Cold chain merupakan sistem yang menjaga kualitas produk biologis sejak proses produksi hingga titik pemberian dengan memastikan bahwa vaksin disimpan dan diangkut pada rentang suhu yang direkomendasikan. Karena vaksin bersifat sangat sensitive, maka penangannya harus dilakukan secara teliti dan konsisten. Ketidakstabilan suhu dapat menyebabkan kerusakan vaksin dan berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Chold chain dapat berupa standar (2-8oC) maupun deep-freeze (hingga -70oC), dengan kebutuhan infrastruktur yang luas dan biaya operasional yang tinggi. PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN VAKSIN COVID-19Dalam proses penyimpanan dan pengemasan, vaksin dikemas dalam beberapa lapisan. Pengemasan primer umumnya terdiri atas vial kaca, jarum suntik, penutup, dan segel. Kemudian, pengemasan sekunder dan tersier digunakan untuk mengurangi volume, menekan biaya logistik, serta menurunkan jejak karbon. Di fasilitas kesehatan, vaksin biasanya disimpan dalam lemari es atau freezer khusus farmasi, bahkan dalam beberapa kondisi dapat menggunakan kulkas rumah tangga yang memenuhi standar tertentu. Setiap jenis vaksin juga memiliki kebutuhan penyimpanan yang berbeda, yaitu: TRANSPORTASI DAN DISTRIBUSI VAKSIN COVID-19Pada tahap transportasi dan distribusi, persyaratan logistic vaksin harus memenuhi standar farmasi untuk pengiriman melalui udara, laut, maupun darat. Produsen vaksin wajib mematuhi kebijakan Food and Drug Authority serta ketentuan Federal Food, Drug, and Cosmetic Act. Untuk penggunaan darurat, otoritas menerbitkan Emergency Use Authorisation (EUA) yang mencakup dua jenis fact sheet sebelum vaksin dikirim ke berbagai negara, yaitu (Termini, 2021) : 1. Healthcare Providers Administering Vaccine (Vaccination Providers) 2. Recipients & Caregivers Proses distribusi melibatkan banyak stakeholder seperti pengirim, freight forwarder, perusahaan kargo udara dan darat, serta agen penanganan di titik tujuna (de Boeck et al., 2020). Seluruh pihak bekerja dalam suatu gugus tugas yang menangani aspek kesehatan-lingkungan, hubungan public, kebijakan pemerintah, komunikasi, serta kelangsungan operasi rantai pasok. Karena vaksin sangat rentan terhadap fluktuasi suhu, setiap pemangku kepentngan memiliki peran penting dalam menjaga kualitasnya, sebab paparaan suhu yang tidak sesuai dapat merusak vaksin dan mengganggu jalannya program vaksinasi. Sumber: Hale et al. (2021). Pandemic policy database; Ganasegeran et al. (2021). COVID-19 reproduction number & herd immunity; Fahrni et al. (2022). Cold chain logistics management; de Boeck et al. (2020). Vaccine distribution chains; Termini (2021). Public health & liberty in vaccination.
Read MoreFenomena Over Dimension and Over Loading atau ODOL adalah sebuah masalah besar dalam sektor logistik Indonesia. Karena ODOL menyebabkan terhambatnya efisiensi, keamanan, dan daya saing nasional. ODOL sendiri merupakan kondisi ketika kendaraan angkutan barang melebihi batas dimensi dan muatan yang diizinkan pemerintah, sehingga menyebabkan kerusakan jalan, peningkatan biaya logistik, dan risiko kecelakaan yang tinggi. Bagi pelaku usaha praktik ODOL ini memang terlihat menguntungkan, tapi faktanya praktik ini justru merusak jalan, bikin boros BBM, dan risiko tinggi kecelakaan. Oleh karena itu, pemerintah menerapkan kebijakan Zero ODOL yang resmi diterapkan secara nasional mulai tahun 2025. Tujuannya adalah menekan tingkat kecelakaan dan menjaga infrastruktur jalan dari kerusakan akibat kendaraan yang melebihi kapasitas muatan. Namun, kebijakan ini menimbulkan tantangan baru yakni kenaikan biaya logistik yang signifikan. Berikut ini merupakan 3 dampak utama Zero ODOL terhadap biaya logistik beserta solusinya! Kebijakan Zero ODOL mewajibkan kendaraan pengangkut barang atau niaga hanya boleh mengangkut sesuai kapasitas standar menyebabkan Perusahaan harus menambah jumlah perjalanan untuk mengirim barang dengan volume yang sama. Hal ini, menimbulkan lonjakan biaya bahan bakar, operasional armada, tol, serta tenaga kerja. Menurut ALI (Asosiasi Logistik Indonesia), biaya logistic meningkat antara 30% sampai 40% sejak implementasi penuh ZERO ODOL (Kontan.co.id, 2025). Biaya transportasi yang meningkat menyebabkan biaya distribusi barang yang ikut melonjak. Lonjakan ini cenderung dibebankan ke konsumen dalam bentuk harga barang yang lebih tinggi. Sektor yang paling terdampak adalah barang pokok dan kebutuhan sehari-hari di wilayah dengan akses logistic yang terbatas. Padahal menurut Bappenas, sebelum penerapan kebijakan inipun, biaya logistik Indonesia sudah berada di angka 14,29% dari PDB, lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand (Bisnis.com, 2023). Pelaku UMKM dan pengusaha daerah umumnya memiliki kendaraan angkutnya sendiri ataupun menggunakan kendaraan angkut yang di sewa namun, sering kali belum mampu mengganti armada logistik mereka sesuai regulasi Zero ODOL. Akibatnya, banyak usaha kecil yang kehilangan daya saing karena biaya kirim naik, margin usaha turun, dan distribusi menjadi lebih lambat. Lalu, bagaimana dengan solusinya? Ini dia solusi yang dapat diterapkan! Solusi agar kebijakan Zero ODOL tidak memberatkan meliputi penerapan transportasi multimoda yang menggabungkan angkutan jalan, laut, dan kereta untuk efisiensi biaya; penguatan ekosistem digital melalui National Logistic Ecosystem (NLE). Digitalisasi proses logistik melalui NLE mampu memangkas birokrasi, mempercepat alur distribusi, dan meningkatkan transparansi antara pelaku usaha dan pemerintah. Selain itu, Pemerintah perlu memberi bantuan pembiayaan untuk penggantian kendaraan yang sesuai standar ODOL. Peningkatan kapasitas SDM logistik menjadi kunci agar pelaku usaha dapat beradaptasi dengan sistem baru secara optimal. Pemberian insentif pembiayaan untuk konversi armada yang sesuai standar dan pelatihan SDM diberikan agar adaptasi kebijakan berjalan optimal dan berkelanjutan (Sitorus, 2022).Sumber: Kontan.co.id (2025). Urgensi Roadmap Kebijakan ODOL dan Hambatan Logistik Nasional; Bappenas. (2023). Ongkos logistik RI 14,29 persen, Bappenas: Negara maju 8 persen. Bisnis.com; Sitorus, B. (2022). Peranan Multimoda dan NLE. Jurnal Manajemen Bisnis Transportasi dan Logistik, Vol.8 No.1.
Read MoreCilacap, 27 Mei 2025 – Suasana sore di Pantai Sodong, Cilacap, menjadi saksi semangat puluhan mahasiswa dari berbagai kampus. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati pemandangan laut, melainkan menjalankan misi penting yaitu melepas tukik (anak penyu) ke habitat alaminya sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian ekosistem laut. Kegiatan ini merupakan bagian program REACT (Reach and Action) dari Digital Collaboration for Sustainability (DCS) Telkom University. Berawal dari Tim ECORISE Dinda Natasya Artaviana (S1 Teknik Logistik), Muhammad Hilmiy Nasthama (S1 Teknik Logistik) Dona Nur Tamara S1 Sains Data menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa mampu berperan aktif dalam pelestarian lingkungan. Ketua Tim ECORISE, Dinda Natasya Artaviana, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-14: kehidupan di bawah laut.“Lewat pelepasan tukik ini, kami ingin menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil. Kami ingin meningkatkan kesadaran bahwa laut juga harus kita jaga bersama,” kata Dinda. Kegiatan dimulai pukul 14.30 WIB dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan laporan kegiatan dari Ketua Tim Ecorise Dinda Natasya Artaviana, kemudian sambutan dari Kaprodi Teknik Logistik Ibu Nabila Noor Qisthani, S.T., M.T., serta Direktur DCS Telkom University. Setelah itu, peserta mengikuti sesi edukasi mengenai ekosistem penyu yang dipandu oleh tim konservasi setempat. Dalam sesi edukasi tersebut, peserta belajar bahwa penyu kerap menjadi korban pencemaran laut. Pak Jumawan, pengelola konservasi penyu Cilacap, membagikan kisah nyata tentang seekor penyu yang tidak mau makan karena menelan sampah plastik. “Waktu kami periksa, ternyata di kotorannya ada serpihan plastik. Ini bukti bahwa sampah di laut sangat berbahaya bagi hewan laut,” ujarnya. Dalam kegiatan ini, Ketua Program Studi Teknik Logistik, Ibu Nabila Noor Qisthani, S.T., M.T., turut menyampaikan pandangannya. Ia menekankan bahwa kegiatan ini sangat relevan dengan semangat keberlanjutan yang juga menjadi bagian dari sistem rantai pasok modern.“Sebagai bagian dari program studi yang menekankan pentingnya keberlanjutan dalam sistem logistik, kami ingin mahasiswa belajar langsung tentang bagaimana pelestarian lingkungan bisa berjalan seiring dengan praktik logistik. Kegiatan ini memberi pengalaman yang sangat bermakna bagi mereka,” tuturnya. Tukik yang dilepas adalah jenis penyu lekang, salah satu spesies yang kini jumlahnya terus menurun. Pelepasan dilakukan sekitar pukul 16.00 WIB. Waktu tersebut dipilih karena dianggap paling aman dari serangan predator laut.“Waktu sore adalah waktu terbaik untuk tukik menuju laut. Suhu lebih bersahabat, dan risiko ancaman dari hewan pemangsa jauh lebih kecil,” jelas Pak Jumawan. Sebanyak 50 mahasiswa turut serta dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari beragam program studi dan kampus, seperti UGM, Amikom Yogyakarta, Amikom Purwokerto, serta berbagai jurusan di Telkom University Purwokerto, seperti Teknik Informatika, Sains Data, DKV, Sistem Informasi, dan tentu saja Teknik Logistik. Para peserta berkumpul di kampus Telkom University sejak siang, lalu berangkat bersama menuju Pantai Sodong menggunakan sepeda motor. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa isu lingkungan dapat menyatukan banyak pihak dari berbagai latar belakang. Kegiatan ini sebenarnya direncanakan sejak Maret, namun pelaksanaannya baru bisa dilakukan di akhir Mei demi menunggu tukik menetas. “Kami menyesuaikan jadwal demi kelestarian tukik. Ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi momentum yang kami tunggu dengan serius,” kata Dinda. Kegiatan ini juga didampingi langsung oleh Bapak Miftahol Arifin, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing, serta para dosen Teknik Logistik lainnya yang turut hadir dan mendukung penuh kegiatan mahasiswa di lapangan. Melalui ECORISE, mahasiswa tidak hanya belajar tentang teori pelestarian lingkungan, tetapi juga terjun langsung dalam aksi nyata. Dengan melepaskan tukik ke laut, mereka mengirim pesan bahwa konservasi bisa dimulai dari tindakan sederhana namun berdampak besar. “Semoga akan lebih banyak kegiatan kampus yang mendukung keberlanjutan, dan lebih banyak mahasiswa yang peduli terhadap lingkungan. Karena masa depan laut ada di tangan kita juga,” tutup Dinda.
Read MoreTim Dosen Teknik Logistik Merancang Alat Pemilah Telur Otomatis Berkolaborasi dengan Kemendiksaintek
Tim Dosen dari Telkom University Purwokerto merancang alatpemilah telur otomatis untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk di industri perternakan. Alat ini memisahkan telur berdasarkan ukuran dan berat menggunakan sensor load cell. Dengan prinsip gaya tarik magnet, telur yang lebih berat akan jatuh terlebih dahulu. Anto Farm merupakan salah satu UMKM di Wilayah Cilongok Banyumas yang bergerak di bidang Layer Farm dan juga Peternakan Ayam Pejantan. Cakupan pasaran Anto Farm berada di wiliayah Banyumas, Purbalingga, dan Cilacap. Tantangan utama yang dihadapi oleh Peternak Unggas daerah Banyumas dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Beberapa masalah eksternal seperti mengatasi jenis konsumen yang semakin selektif dilakukan dengan memberikan pilihan Grade Telur mulai dari Grade A, B, dan C. untuk faktor eksternal yang lain merupakan kejadian yang uncontrollable sehingga UMKM cenderung menerima kondisi eksternal tersebut. Untuk masalah internal seperti masalah pengolahan limbah, Anto Farm telah mengadopsi system Tumpang Sari dimana system tersebut merupakan perpaduan antara peternakan ayam dan budidaya ikan di kolam. Berdasarkan hasil wawancara masalah operasional yang belum dapat diatasi namun memungkinkan untuk dikontrol adalah permasalahan 1) Sortir telur manual, 2) pecah telur sesaat setelah ayam bertelur, dan 3) deteksi susut bobot krat telur dan unggas Ketika pengiriman.Secara umum implementasi Alat Sortir berpengaruh pada Penurunan beban operasional UMKM Peternakan dengan cara mempercepat waktu sortir sehingga barang cepat dikirim, memungkinkan perampingan karyawan sortir dalam jangka panjang, dan mitigasi telur pecah saat panen telur. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Satu Peti telur atau 15 Kg dengan jumlah telur sebanyak 240 butir. Dimulai dari percobaan 1 menggunakan jumlah telur 1 krat (30 butir), hingga percobaan yang ke-5 menggunakan 1 peti telur. Sedangkan rata-rata waktu sortir dengan menggunakan Alat Sortir Telur Otomatis memiliki waktu rata-rata sortir sebesar 22.6 detik per telur. Sedangkan untuk implementasi alas telur juga berpengaruh pada penurunan defect telur secara signifikan, terjadi penurunan presentase jumlah defect telur dengan rata-rata penurunan sebesar 54%. Rata-rata defect pada telur dengan menggunakan Alas Telur tradisional adalah 7 butir per flok per hari. Setelah di terapkan alas stainless dan dilakukan pengamatan selama 5 hari maka diperoleh rata-rata defect per flok perhari adalah 3 Butir perflok perhari.
Read MoreKegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dipimpin oleh Nabila Noor Qisthani, S.T., M.T., dosen Teknik Logistik, bersama dengan anggota tim Muhammad Iqbal Faturohman, S.T., M.B.A., M.Sc. dan Emmareta Fauziah, S.Ds., M.Ds., serta melibatkan enam mahasiswa dari berbagai program studi. Program PKM ini dilakukan di Desa Karangduwur, Kabupaten Kebumen, dengan sasaran mitra para pengrajin gula kelapa setempat. Adapun bantuan teknologi yang diberikan berupa dapur dan tungku bersih serta beberapa peralatan pendukung untuk meningkatkan produksi gula kelapa. Pengembangan Usaha Kelompok Pembuat Gula Kelapa di Desa Karangduwur melalui Kemasan Berbasis Identitas Budaya dan Penerapan Digital Marketing
Read MoreSalah satu dosen Teknik Logistik IT Telkom Purwokerto. Miftahol Arifin, S.T., M.T., dipercaya untuk menjadi narasumber dalam workshop tentang “Sinkronisasi Kurikulum SMK Prodi Teknik Logistik” di SMKN 1 Tempel, Sleman. Workshop ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyelaraskan kurikulum SMK dengan kebutuhan industri, khususnya dalam bidang logistik. Miftahol Arifin, dengan pengalaman dan pengetahuannya yang luas, diundang untuk berbagi wawasan mengenai tren terbaru, teknologi, dan best practices di bidang logistik kepada para guru SMK. Sebagai narasumber, Miftahol Arifin tidak hanya memberikan materi tentang konsep-konsep dasar logistik, tetapi juga membahas studi kasus nyata, tantangan industri, serta solusi inovatif yang dapat diterapkan di dunia pendidikan. Melalui sesi interaktif, para peserta workshop mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi langsung dan mendapatkan masukan berharga yang dapat mereka implementasikan dalam pengajaran sehari-hari. Kehadiran Miftahol Arifin sebagai narasumber diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di SMK, khususnya dalam program studi Teknik Logistik. Dengan penyesuaian kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan industri, siswa-siswa SMK akan lebih siap menghadapi dunia kerja yang dinamis dan kompetitif.Workshop ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara IT Telkom Purwokerto dan SMK-SMK di seluruh Indonesia. Dengan sinergi yang baik antara institusi pendidikan tinggi dan sekolah menengah kejuruan, diharapkan dapat tercipta ekosistem pendidikan yang lebih kuat dan berkualitas.Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen IT Telkom Purwokerto dalam mendukung pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia. Semoga kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang besar bagi semua pihak yang terlibat. Selamat kepada Miftahol Arifin atas kepercayaannya sebagai narasumber di workshop ini, dan semoga kontribusi beliau dapat menginspirasi banyak pendidik dan siswa di .
Read MorePurwokerto, 13 Juli 2024 – Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh Nabila Noor Qisthani, seorang dosen di program studi Teknik Logistik IT Telkom Purwokerto, yang berhasil meraih sertifikasi internasional sebagai Certified Supply Chain Analyst (CSCA) dari International Supply Chain Education Alliance (ISCEA). Sertifikasi CSCA dari ISCEA dikenal sebagai salah satu sertifikasi paling bergengsi di bidang supply chain management. Untuk meraih sertifikasi ini, seorang kandidat harus melalui proses yang ketat dan komprehensif yang mencakup berbagai aspek manajemen rantai pasok, mulai dari perencanaan dan pengadaan hingga produksi, distribusi, dan logistik. Proses sertifikasi ini tidak hanya menguji pengetahuan teoretis tetapi juga kemampuan praktis dalam menerapkan konsep-konsep supply chain di dunia nyata. Nabila Noor Qisthani harus melalui serangkaian ujian yang menantang, di mana tingkat kesulitannya cukup tinggi. Ujian ini menuntut pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip supply chain, kemampuan analitis yang tajam, serta pemecahan masalah yang efektif. Selain itu, persaingan untuk mendapatkan sertifikasi ini juga sangat ketat, dengan banyak profesional dari seluruh dunia yang berlomba-lomba untuk meraihnya. Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan penuh dari pihak kampus IT Telkom Purwokerto, serta dedikasi dan komitmen Nabila dalam mempersiapkan dirinya. Mengalokasikan waktu khusus untuk mempelajari materi ujian, mengikuti pelatihan intensif, dan melakukan simulasi ujian untuk memastikan dirinya siap menghadapi tantangan tersebut. Dengan meraih sertifikasi CSCA, Nabila Noor Qisthani tidak hanya mengukuhkan dirinya sebagai ahli di bidang supply chain, tetapi juga membawa harapan baru bagi kemajuan dunia logistik di Indonesia. Ilmu dan pengalaman yang diperolehnya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan profesional lainnya, serta berkontribusi dalam pengembangan strategi dan inovasi di bidang logistik. Dalam pernyataan resminya, Rektor IT Telkom Purwokerto menyampaikan apresiasinya, “Kami sangat bangga atas prestasi yang diraih oleh Ibu Nabila Noor Qisthani. Sertifikasi CSCA ini merupakan bukti nyata dari dedikasi dan kompetensi tinggi yang dimiliki oleh tenaga pengajar kami. Kami berharap pencapaian ini dapat menginspirasi dosen dan mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan memberikan kontribusi terbaik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang logistik.”
Read MorePrestasi gemilang kembali diraih oleh mahasiswa Teknik Logistik dalam ajang bergengsi Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Dalam penelitian yang menggabungkan aspek budaya dan logistik, mereka berhasil mengkaji tradisi Kebo-Keboan dan mengungkap implikasinya terhadap ketersediaan pangan di masyarakat. Kebo-Keboan adalah tradisi unik yang berasal dari Desa Alasmalang, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan merupakan bagian dari ritual agraris yang bertujuan untuk memohon kesuburan tanah dan kelimpahan hasil panen. Dalam ritual ini, beberapa orang berpakaian dan berperilaku seperti kerbau (kebo) yang diarak keliling desa, menirukan aktivitas membajak sawah. Melalui penelitian ini, mahasiswa Teknik Logistik tidak hanya tertarik pada aspek budaya dari tradisi Kebo-Keboan, tetapi juga berusaha memahami bagaimana tradisi tersebut berdampak pada sistem pangan lokal. Dengan pendekatan interdisipliner, mereka menggabungkan studi antropologi, sosiologi, dan logistik untuk mengeksplorasi berbagai dimensi dari tradisi ini. Prestasi mahasiswa Teknik Logistik dalam PKM-RSH ini tidak hanya membanggakan tetapi juga memberikan wawasan baru tentang bagaimana tradisi budaya dapat berperan dalam menjaga dan meningkatkan ketersediaan pangan. Studi ini menunjukkan bahwa kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi seperti Kebo-Keboan memiliki relevansi yang kuat dalam konteks modern, terutama dalam upaya mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan. Dengan mengangkat tradisi Kebo-Keboan dalam penelitian mereka, mahasiswa Teknik Logistik telah berhasil membuka mata banyak orang akan pentingnya menjaga dan menghargai budaya lokal sebagai bagian integral dari sistem pangan kita. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menggali dan memanfaatkan kearifan lokal dalam menghadapi tantangan global di masa depan.
Read More